deck ak.jpg

 Foto:Dok.TatlerAsia.com

Alexis Christodoulou mendapat banyak followers di Instagram atas karya digitalnya yang indah. Ia memutuskan untuk membuat koleksinya sebagai non-fungible tokens (NFT) musim semi lalu.  "Saya pikir ini adalah waktu yang tepat, sebelum NFT pertama muncul," ujarnya. Pria yang pindah ke Amsterdam pada awal 2021 telah meluncurkan perusahaan desain yang bernama Color C Design Studio, pada waktu yang bersamaan. Pada Mei 2021, ia memulai debut koleksi NFT pertamanya untuk dijual melalui platform lelang online, Nifty Gateway.  Koleksi yang berjudul Homesick itu terdiri dari sembilan rendering arsitektur bergerak, gambar yang halus, dan lanskap  yang menampilkan furniture rumah yang terasa seperti tidak pada tempatnya.  Ini adalah surat cinta untuk alam “bagian alami Cape Town yang sangat saya rindukan" ujarnya. 

Christodoulou selain dari negara asalnya, karyanya terinspirasi dari kehidupan di tengah pandemi dan tekanan pekerjaannya. Orang-orang Afrika Selatan menghabiskan tiga minggu menciptakan karya Homesick, mereka bekerja dalam 16 jam sehari bersama dengan seorang animator yang bernama Christopher Cook.  Christodoulou, yang belajar sendiri untuk rendering 3D satu dekade lalu, sebelumnya bekerja di periklanan dan pembuatan anggur, mengatakan bahwa dia tertarik dengan dunia digital sejak usia muda.  "Saya selalu terpesona dengan video game dan semua ide tentang membangun dunia, dan saya tidak pernah benar-benar memiliki cara untuk mengekspresikan diri dengan cara itu," katanya.  Dan kemudian 3D muncul, dan ia memikirkan untuk bekerja sebagai seniman yang membuat fotorealistik untuk arsitek.  Pada akhirnya, ia menjadi seorang full-time 3D artist. 

Setahun setelah Homesick diluncurkan, Christodoulou melanjutkan untuk membuat project NFT lainnya. “Ruang NFT berubah setiap saat”. Dia mengatakan bahwa “Saat ini ruang NFT ke lebih berfokus pada sebuah karya seni, setelah profile picture yang populer satu tahun belakangan ini”. Christodoulou, yang kini memiliki 237.000 followers di Instagram mengatakan, “Saya tidak pernah membayangkan karya 3D ini akan bisa direalisasikan di dunia nyata” ucapnya. “Menurut saya, akan selalu ada ide-ide 3D virtual yang dapat membuat pecinta karya seni dapat melebur dan terhilang di dalamnya untuk beberapa saat dan merasa bahwa mereka ada di dunia yang berbeda”. Dalam karya ini, Christodoulou mengajak Tatler untuk melihat dan mengerti apa saja yang menjadi inspirasinya untuk Homesick. 

 

Weekly wash 

weekly.jpgFoto:Dok.TatlerAsia.com

Weekly wash adalah respons terhadap rasa lelah pada pandemi. ”Saya memiliki ide yang lucu saat pandemi. Saat itu saya sedang berkemah di Cape Town, dan di sana saya hanya dapat mandi satu kali dalam seminggu, jadilah karya Weekly Wash yang sesuai dengan arti harafiahnya, yaitu ‘mandi seminggu sekali".

West Coast National Park

west.jpg Foto:Dok.TatlerAsia.com

West Coast National Park adalah sebuah karya yang dibuat untuk menghargai taman pantai di utara Cape Town.  "Setiap tahun, bunga-bunga muncul di musim semi, dan bukit-bukit di taman diselimuti bunga sejauh yang kamu bisa lihat." Keindahan ini kemudian dijadikan sebuah karya indah yang dapat dinikmati oleh kita semua. 

Homesick

homesick 1.jpg Foto:Dok.TatlerAsia.com

"Koleksi ini memiliki arti lebih dari sekedar rindu akan kampung halaman" kata sang seniman.  Sick Bay juga terinspirasi dari the new normal.  "Saya agak lelah selama pandemi Covid terjadi, dan karya ini menjadi semacam reminder agar kita juga bisa berhenti sejenak dan beristirahat, dan bahwa tidak selalu produktif itu tidak apa-apa”.

Backyard

backyard.jpg  Foto:Dok.TatlerAsia.com

Backyard adalah interpretasi hiperbolik dari taman di rumah orang tua Christodoulou, tempat ia dibesarkan. Di taman itu dahulu adalah tempat pelariannya, di mana ia dapat melepas lelah dengan berduduk santai ataupun berpikir.

Visiting Friends

visit.jpg Foto:Dok.TatlerAsia.com 

‘Mengunjungi teman’ adalah sebuah karya seni virtual yang terinspirasi dari ingatan Christodoulou yang pada saat itu ia diam-diam melihat orang-orang di luar rumahnya berlalu lalang selama aturan lockdown Covid-19 di Cape Town berlangsung. Vibe yang diberikan adalah suasana ‘persembunyian di dalam sebuah gua’.

Saunders Rock

saunder rock.jpgFoto:Dok.TatlerAsia.com

Sounders Rock adalah karyanya yang bernama sama dengan sebuah pantai di Cape Town, tempat Christodoulou menghabiskan waktu senggang. “Saya sangat merindukan panti itu karena tidak banyak pantai di tempat saya tinggal sekarang yaitu Amsterdam. Di Sounders Rock saya bisa menghilang sesaat, melompat ke laut dan kembali lagi bekerja sesaat setelah itu.”

3.00 AM

3.jpg   Foto:Dok.TatlerAsia.com

3 AM adalah karya Christodoulou yang terinspirasi oleh tekanan pekerjaan. "Saya bekerja begitu banyak dan menjadi sangat stres.  Saya selalu terbangun tiap  jam 3 pagi dan  terpikirkan tentang Afrika Selatan, dan merindukan kampung halaman." Ilustrasi ini adalah cerminan sebuah perbatasan antara Afrika Selatan dan Namibia di mana ia berkhayal sedang berada di tempat itu di pukul 3 dini hari.