1/5 Bercerita mengenai kehidupan dan sepak terjang Michael Jordan di dunia bola basket

Dalam serial dokumenter ini para penonton akan diajak untuk menyelami kehidupan serta sepak terjang seorang pebasket paling berpengaruh di dunia, Michael Jordan dan Chicago Bulls pada tahun 1990-an. Dokumenter yang terbagi menjadi 10 episode ini juga menampilkan footage mengenai konflik internal pada musim tanding tahun 1997 hingga 1998. Tidak hanya itu saja, kita juga dapat melihat kedekatan sang legenda basket dengan Larry Bird, Presiden Bill Clinton, Presiden Barack Obama, Bill Winnington, Mark Vancil dan juga Joe Kleine.
 
2/5 Kesuksesan Michael Jordan berawal dari persaingan antar saudara

Tidak dapat dipungkiri bahwa Michael Jordan memiliki dedikasi tinggi sebagai pemain basket yang tidak dimiliki atlit lainnya. Dalam dokumentasi ini, Jordan selalu menjadi yang pertama dan menjadi yang terakhir meninggalkan tempat latihan.  Kerja keras serta kemauan untuk sukses yang tinggi ini juga menginspirasi beberapa atlit lainnya seperti mendiang Kobe Bryant, superstar sepakbola Lionel Messi dan Christiano Ronaldo, serta artistic gymnast, Simon Biles.
 
Namun, kesuksesan tidak selalu berawal manis. Jiwa pesaing Michael didapatkan dari ayahnya, James, yang merupakan seorang teknisi General Electric (GE). Saat sedang mengerjakan proyek mobil bersama anak pertamanya, Larry, Michael selalu menawarkan bantuan tetapi James selalu menghukum ketidaktahuannya mengenai mesin mobil. Saat itulah, Michael merasa bahwa ia harus membuktikan sesuatu yang lebih baik mengenai dirinya kepada sang ayah dan kakaknya. 

Kompetisi antar Michael dan Larry juga berlanjut ke dalam bidang olahraga seperti baseball dan basket. Larry selalu menjadi atlit bintang di keluarganya karena tubuhnya yang tinggi, tetapi Michael selalu ingin memecahkan rekor dunia dan dia pun mewujudkannya.
 
Setelah di cut dari tim Varsity di awal karirnya saat SMA, Michael bekerja lebih keras untuk membuktikan kepada siapa saja yang menganggap dirinya tidak kompeten. Ayahnya pernah mengatakan bahwa “untuk memicu segala yang terbaik darinya, katakana pada Michael bahwa ia tidak bisa melakukan sesuatu atau dia tidak dapat melakukannya sebaik orang lain.”
 
Beberapa tahun setelahnya, Michael tidak hanya menjadi pemain basket terbaik di sekolah menengahnya tetapi menjadi pemain basket terbaik di North Carolina dimana ia bermain untuk UNC (Universitas North Carolina). Lalu Michael dipilih Chicago Bulls pada draft NBA di tahun 1984. Michael pun dengan cepat menjadi bintang di liga dan menjadi favorit publik. Dia dikenal karena lompatan hebat, yang dibuktikan dengan lemparan dari atas dari garis penalti di Kontes Slam Dunk.
 
3/5 Michael Jordan hampir kehilangan segalanya sebelum karirnya menanjak

 patah kaki.jpgFoto dok: insider.com

Michael Jordan sempat mengalami cedera patah tulang di awal musim keduanya. Kemudian, ia pun dipaksa untuk tetap berada di luar ring. Dokternya mengatakan bahwa ia memiliki 90 persen peluang untuk benar-benar pulih dan 10 persen kemungkinan dia tidak akan pernah bermain lagi jika tidak mengikuti anjuran.

Ia juga pernah memaksa untuk tetap bermain, tetapi pemilik Chicago Bulls, Jerry Reinsdorf, mengatakan bahwa Michael sudah kehilangan akalnya. Pada salah satu wawancaranya, Jerry mengumpamakan cedera Michael sebagai sakit kepala dan ia mengatakan “jika aku memiliki 10 pil dan salah satu dari pil tersebut akan membunuhnya, akankah Michael mengambilnya?” Lalu Michael menjawab “tergantung seberapa buruk sakit kepalanya.”

4/5 Konflik antara Jerry Krause dan Scottie Pippen

pippen.jpg Foto dok: justrichest.com

“Saya tidak akan pernah menemukan tandem dan support system terbaik dari pemain lain selain Scottie Pippen,” ungkap Jordan dalam episode ke-dua dokumenter ini. Jika Michael Jordan disebut sebagai Batman, maka Scottie Pippen adalah Robin.

Pada era 1990-an, saat Bulls mendominasi NBA, bisa dibilang bahwa pemain kelahiran Hamburg, Arkansas ini adalah permain terbaik kedua tim asuhan Phil Jackson. Lalu saat ia membela Universitas Central Arkansas (UCA) pada ajang basket antar kampus, NCAA, ia terpilih sebagai rookie nomor lima dalam NBA Draft 1987 oleh Seattle Supersonics (yang sekarang menjadi OKC Thunder). Namun, pada malam menjelang draft, Bulls dan Sonics sepakat untuk melakukan pertukaran dan rookie Olden Polynice pun ditukar dengan Pippen. Pertukaran ini terbukti tepat karena Pippen akhirnya mendampingi Michael mempersembahkan enam gelar untuk Bulls.

Terlepas dari dedikasinya kepada Bulls, serial dokumenter ini menunjukkan bahwa Pippen kurang dihargai oleh para manajemen tingkat atas. Lalu apa yang ia lakukan sehingga General Manager Jerry Krauss kurang menghargainya? Kamu akan tahu jawabannya saat menonton dokumenter ini.
 
5/5 Menjadi serial dokumenter paling ditonton sepanjang sejarah berdirinya ESPN

the last dance .jpgFoto dok: ESPN.com

Sebelum disiarkan di Netflix, serial dokumenter ini sudah terlebih dulu disiarkan di saluran ESPN. Dilansir dari New York Post, “The Last Dance” telah menyedot rata-rata 6,1 juta penonton dimana dua episodenya baru saja disiarkan. Jumlah penonton ini pun menjadikan "The Last Dance" sebagai serial dokumenter paling ditonton sepanjang sejarah berdirinya ESPN menggantikan serial dokumenter sebelumnya bertajuk "You Don't Know Bo", yang mengisahkan tentang atlet bisbol dan pemain football asal AS, Bo Jackson yang mencatat rata-rata penonton sebanyak 3,6 juta per episode.