Book.jpgFoto dok: unsplash.com/@impatrickt

Tidak seperti perempuan masa sekarang yang bisa bebas berkarya dan berpendapat, perempuan zaman dulu menghadapi banyak kesulitan, bahkan untuk mengutarakan pendapat pun mereka harus berpikir dua kali. Namun, lima penulis wanita ini menolak untuk mengikuti norma-norma sosial yang mengekang mereka melalui karya tulisan. Siapa sajakah kelima penulis wanita tersebut? Berikut ulasannya.

1/5 Jane Austen

Jane Austen.jpgFoto dok: theconversation.com

Jane Austen merupakan seorang novelis asal Inggris yang mengusung gaya tulisan realis. Memiliki kemampuan dalam mengurai kritik yang tajam mengenai kondisi sosial dan kepiawaiannya meramu gaya narasi yang dibumbui oleh parodi dan ironi menjadikannya salah satu penulis dalam kesusastraan Inggris yang paling berpengaruh dan digemari. Tumbuh di keluarga pecinta literatur, masa kecilnya dihabiskan dengan membaca buku di perpustakaan milik keluarganya dan di sanalah ia mulai menulis puisi dan cerita mengenai kehidupan dan pergaulan masyarakat yang kerap menjadi sumber inspirasinya. Berbagai kelas sosial, pria kaya yang angkuh, hingga tuntutan terhadap wanita muda untuk segera menikah, diangkat dalam ceritanya. Hidup pada masa ketika wanita memiliki ruang yang terbatas untuk mengejar keinginan-keinginannya, Jane Austen menyuarakan ketidaksetujuannya melalui berbagai karyanya. Seperti dalam novel ‘Pride and Prejudice,’ Jane menciptakan tokoh wanita bernama Elizabeth Bennet yang berani melawan norma-norma yang ada dalam masyarakat pada saat itu.
 
2/5 Mary Shelley


 Gwbb.jpgFoto dok: gwbb.podcast.com

Mary Shelley adalah penulis Frankenstein, novel fiksi ilmiah pertama yang pernah ditulis. Namun, novel ini harus diterbitkan secara anonim karena di era tersebut, penulis wanita tidak umum untuk dipublikasikan, terutama dengan genre novel yang dianggap jauh dari kesan feminin. Bahkan, kata pengantar untuk Frankenstein juga ditulis oleh suami Shelley agar novel ini dapat diterima masyarakat luas. Pada akhirnya, ia berani menulis namanya sendiri sebagai penulis di edisi kedua novel tersebut. Pada tahun 2017, kisah mengenai dirinya diangkat ke film kayar lebar dan disutradari oleh Haifaa al-Mansour. Film ini bercerita tentang kisah percintaannya dengan seorang penyair, Percy Bysshe Shelley, yang menginspirasinya untuk menulis ‘Frankestein; or, The Modern Promotheus.’


3/5 Harriet Beecher Stowe

arriet.jpgFoto dok: womenhistory.org

Kecintaan Harriet terhadap literatur berawal dari sang paman yang mendorongnya untuk membaca karya-karya Lord Byron dan Sir Walter Scott. Pada usia 11 tahun, ia masuk seminari di Hartford, Connecticut, dan mempelajari bahasa, ilmu alam dan makenika, komposisi, etika, logika dan matematika yang saat itu hanya diperuntukkan bagi murid pria. Setelah bekerja menjadi asisten pengajar selama empat tahun, ia pun memulai karir penulisannya pada 1834. Selain menulis, Harriet juga merupakan seorang aktivis anti-perbudakan abad -19 di Amerika Serikat dan ia pun mendukung gerakan tersebut melalui novelnya berjudul ‘Uncle Tom’s Cabin.’ Novel ini bercerita tentang kehidupan para keluarga korban perbudakan yang harus terpisah dari satu sama lain karena perdagangan budak. Uncle Tom’s Cabin terjual sebanyak 300.000 eksemplar di Amerika Utara dan disebut-sebut sebagai salah satu penyebab pecahnya Perang Sipil Amerika. Karyanya yang sangat berpengaruh ini lalu diangkat ke layar lebar pada tahun 1903 yang disutradari oleh Edwin S. Porter.
 
4/5 Octavia Butler

Buttler.pngFoto dok: shoppeeblack.us

Satu lagi penulis fiksi ilmiah wanita yang masuk dalam daftar ini ialah Octavia Butler merupakan penulis yang terkenal dengan novel-novelnya yang mengeksplorasi isu-isu ras, gender, kelas, dan kekuasaan. Menjadi penulis wanita berkulit hitam di tahun 1970-an tidak membuatnya gentar untuk tetap bersinar dalam dunia sastra yang didominasi oleh penulis-penulis pria berkulit putih. Berkat imajinasinya yang luar biasa dan karya-karya visionernya, Butler berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi, seperti Hugo Award dan Nebula Award. Ia adalah penulis fiksi ilmiah pertama yang menerima MacArthur Fellowship.  

5/5 Alexandra Kinias

kinneas.jpgFoto dok: about.me.com

Penulis asal Mesir ini membahas tentang kesulitan yang harus dihadapi perempuan dalam lingkungan yang dikuasai oleh pria. Selain itu, ia menjadi co-writer dalam film berjudul Cairo Exit. Film ini sempat disensor di negaranya sendiri, tetapi justru mendapat pengakuan di kancah perfilman internasional dan memenangi penghargaan film non-Eropa terbaik di European Independent Film Festival. Alexandra Kinias juga seorang pendiri, Women of Egypt, sebuah majalah online yang memberikan ruang bagi perempuan-perempuan Mesir untuk menyuarakan pendapat mereka.