Cannes International Film Festival adalah salah satu festival film tahunan terbesar yang diadakan di Cannes. Festival ini menayangkan film-film baru dari seluruh dunia yang meliputi semua genre termasuk film dokumenter. Tidak hanya itu, tujuan dari festival ini juga adalah untuk menemukan bakat baru dalam bidang perfilman diseluruh dunia. Untuk beberapa kesempatan, pada tahun 1998, 2005, 2015 hingga 2017, karya anak Bangsa Indonesia berhasil ditayangkan dalam Festival Film Internasional Cannes ini. Penasaran apa saja film tersebut, dan bagaimana ceritanya? Simak selanjutnya disini: 

Tjoet Nja’ Dhien (1998)

1. indonesian cinematheque.jpgfoto: Dok. indonesiancinematheque

Tjoet Nja’ Dhien merupakan film Indonesia pertama yang berhasil tayang pada Festival Film Internasional di Cannes pada tahun 1998 silam. Film ini disutradarai oleh Eros Djarot dan dibintangi oleh Christine Hakim, Rudy Wawor serta Slamet Rahardjo. Film berdurasi 150 menit ini menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan asal Aceh, Tjoet Nja’ Dhien, bersama rekan-rekannya melawan Belanda. Pada waktu itu, Belanda menduduki Aceh dikala masa penjajahan Belanda. Meskipun kondisi Tjoet Nja’ Dhien dalam keadaan sakit encok dan juga rabun, namun semangatnya tidak pernah patah dan ia terus berjuang.

Daun Diatas Bantal (1998)

2.wikipedia.jpgfoto: Dok. wikipedia

Selain itu, film Daun Diatas Bantal juga merupakan film hasil karya anak bangsa yang berhasil mendapatkan kesempatan untuk ditayangkan di Festival Film Cannes di tahun yang sama yaitu 1998. Film ini disutradarai Garin Nugroho dan di produseri oleh Christine Hakim. Daun Diatas Bantal ini menceritakan tentang masyarakat Indonesia yang terlupakan dan yang terpinggirkan bak debu ke ujung ranjang, hal ini menggambarkan keadaan negara pada saat itu. Tidak hanya itu, dalam film ini juga membahas mengenai hukum negara yang juga  terpinggirkan. Saat itu, ketika Indonesia merdeka, dalam hukum mengatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak yang terlantar harus dipelihara oleh negara. Namun kenyataannya, hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya, hingga bahkan mereka tidak memiliki perlindungan.

Kara, Anak Sebatang Pohon (2005)

3.revi.us.jpgfoto: Dok. revi.us

Kara, Anak Sebatang Pohon merupakan film yang disutradarai oleh Renate Tombokan dan berhasil lolos dan mendapat kesempatan untuk tayang pada Festival Film Internasional di Cannes pada tahun 2005. Tidak hanya itu saja, film ini juga berhasil untuk tayang di Taipei pada Golden Horse Film Festival ditahun yang sama. Film ini menceritakan tentang ada seorang gadis kecil yang hidup ditempat yang terpencil. Suatu ketika ayah tiba-tiba menghilang setelah ibunya dibunuh oleh seorang yang bernama Ronald. Namun pada suatu hari seorang wartawan hadir kedalam kehidupannya, dan Kara memutuskan untuk menanyakan sebuah pertanyaan utama pada wartawan tersebut.

The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015)

The-Fox-Exploits-the-Tiger’s-Might_Weekend-Kino-Club_Revius.jpgfoto: Dok. revi.us

The Fox Exploits The Tiger’s Might adalah film Indonesia yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi. Film ini telah berhasil meraih penghargaan sebagai film pendek terbaik yang ditayangkan di Festival Film Internasional Cannes pada tahun 2015. Film ini menceritakan mengenai dua orang laki-laki pra-remaja, yaitu David yang merupakan anak dari seorang petinggi tentara dan Aseng yang adalah anak penjual miras dan tembakau selundupan. David dan Aseng sama-sama bergelut dengan perkembangan seksualitas mereka. Juga menceritakan mengenai hubungan antara seks dan kekuasaan disebuah kota kecil dimana kota tersebut adalah wilayah berbasis militer.

Marlina Si Pembunuh Dalam 4 Babak (2017)

5.movieden.net.jpgfoto: Dok.movieden.net

Marlina Si Pembunuh Dalam 4 Babak, film yang disutradarai Mouly Surya ini merupakan salah satu karya anak bangsa yang berkesempatan untuk ditayangkan pada Festival Film Internasional di Cannes pada tahun 2017. Tidak hanya itu, film yang dibintangi oleh Marsha Timothy merupakan satu-satunya film panjang dari Asia Tenggara yang lolos tayang Festival Film paling bergengsi tersebut. Film ini menuai pujian yang positif dari masyarakat internasional, salah satunya adalah dari Grand Prize di Tokyo FILMeX ditahun yang sama. Film ini mengisahkan mengenai Marlina yang merupakan seorang Janda asal pulau Sumba. Dirinya diserang dan dirampok oleh sekelompok pria. Dan untuk melindungi dirinya, Marlina memenggal kepala dari ketua kelompok tersebut. Setelah itu, Marlina menempuh perjalanan panjang menuju kantor polis dengan membawa kepala yang dipenggalnya itu.

Baca juga: Sederet Produk Make-Up Yang Dipakai Selena Gomez Di Cannes Film Festival

Tags: Indonesia, Film, Festival Film Cannes