170922150853-09-north-korea-everyday-design-full-169.jpg

Foto Dokumen : CNN

Korea Utara selalu menarik untuk kita pelajari. Negara yang otoritarian dan tertutup ini memiliki budaya yang sangat bertolak belakang dengan Negara saudaranya, Korea Selatan. Hal ini juga menarik minat Nick Bonner, seorang arsitek dari Inggris. Sejak kunjungannya ke Korea Utara di tahun 1993, Nick memutuskan untuk mendalami ketertarikannya pada budaya Negara tersebut. 25 tahun dan beratus-ratus kunjungan ke Korea Utara kemudian, Nick sudah mengoleksi banyak objek seperti bungkus permen, label makanan, buku komik, kartu pos, dan banyak lagi. Semua hal yang dikumpulkan oleh Nick ini akhirnya menjadi koleksi grafik dan desain Korea Utara yang telah dikurasi dengan teliti dalam satu buku berjudul “Made in North Korea: Graphics from Everyday Life in the DPRK” dimana Nick menyajikan hal-hal yang ia temukan selama perjalanannya di wilayah Asia Timur. Berikut temuan-temuan yang disajikan Nick dalam bukunya.

pages-from-made-in-north-korea-spreads-2.jpg

Foto Dokumen : Culture Trip

Sebagai Negara yang terkenal terisolasi dari pengaruh luar, hanya ada sedikit unsur-unsur asing yang ada di Korea Utara, di antaranya seperti kepercayaan asing dari Budisme atau Konfusianisme; kejadian-kejadian yang sedang terjadi seperti  penjajahan Jepang di tahun 1910-1945; atau, seperti yang baru-baru ini terjadi, hubungan dengan Blok Komunis yang diinisiasi dari Eropa. Sejak lewatnya periode-periode tersebut, Korea Utara lebih percaya diri dalam mengembangkan gaya sendiri. Namun, dalam desain yang sederhana ini pula terdapat kepraktisan, kemurnian, dan keindahan.

pages-from-made-in-north-korea-spreads-3.jpgFoto Dokumen : Culture Trip

Berbeda dengan desain di Barat yang lebih memantik respon emosional daripada rasional, desain di Korea Utara lebih sederhana, bersifat propaganda, dan sering menggunakan gambar grafis yang benar-benar menggambarkan apa yang ada. Jika kita bandingkan dengan label makanan Indonesia dimana terdapat gambar seorang anak dengan wajah gembira memakan makanan dari produk yang bersangkutan, di Korea Utara hanya berupa gambar makanan produk yang bersangkutan seperti gambar di atas. Hampir tidak ada gaya Barat pada advertising di Korea Utara dan sedikitnya aktivitas promosi. Billboard pertama yang pernah dipasang di Korea Utara adalah di awal 2000an mengenai joint venture perusahaan mobil yang dipasang di lima tempat di Pyongyang. Hingga saat ini, hanya billboard tersebut yang ada dan beberapa kali diganti dengan foto-foto penyanyi terkenal atau atlet-atlet untuk mempromosikan apa yang mereka lakukan. Tidak ada advertising lainnya bahkan di televisi sekalipun, dan tidak ada internet, walaupun masih ada intranet yang dapat diakses di smartphone dan perpustakaan.

 pages-from-made-in-north-korea-spreads-4.jpg

Foto Dokumen : Culture Trip

Dengan kesederhanaan desain yang ada, para desainer yang membuat desain bernuansa proletarian ini masih dihargai sebagai seniman grafis dan dikenal secara anonim. Tidak ada yang tahu pasti siapa orang dibalik desain-desain grafis yang tersebar di seluruh penjuru Korea Utara. Namun, berbeda dari sebagian besar desainer grafis lain yang membuat label untuk “menjual” produk, pesan yang disampaikan dari desain di Korea Utara adalah untuk menyajikan propaganda kepada seluruh konsumennya.

Baca juga: Berikut Beberapa Fakta Mengapa Bunga Dapat Mengurangi Rasa Sakit