Konferensi Pers Konser Musikal Cinta Tak Pernah Sederhana (19).JPGSource: Titimangsa Foundation

Setelah sukses menggelar pertunjukkan ‘Bunga Penutup Abad’ yang ketiga kalinya pada bulan November tahun lalu, Titimangsa Foundation kembali hadir dengan pertunjukkan seni terbarunya yang berjudul ‘Cinta Tak Pernah Sederhana’ pada tanggal 16 dan 17 Maret mendatang.

Mengangkat karya sastra Indonesia terutama puisi kedalam seni pertunjukkan, konser musikal ini akan diselenggarakan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Selatan.

Bertujuan untuk menghidupkan karya sastra Indonesia, pertunjukkan ini mengangkat puisi-puisi cinta yang indah yang ditulis oleh para penyair Indonesia seperti Chairil Anwar, Subagio Sastrowardoyo, W.S Rendra, Sapardi Djoko Damono, Wiji Thukul, Acep Zamzam Noor, dan Joko Pinurbo. Puisi-puisi tersebut nantinya akan dipentaskan dalam sebuah percakapan atau dialog dan nyanyian yang diwujudkan ke dalam tata visual yang megah serta lantunan musik yang indah.

Pementasan konser musikal yang digelar dua hari ini juga mengutip sebuah karya dari seorang sastrawan kenamaan Indonesia, Subagio Sastrowardoyo, yang pernah menjabat sebagai Direktur perusahaan penerbitan dan percetakan milik negara, Balai Pustaka, pada tahun 1981.

Tidak hanya mengangkat sastrawan ternama, konser musikal ini juga melibatkan aktor terbaik Indonesia mulai dari Marsha Timothy, Atiqah Hasiholan, Sita Nursanti, Teuku Rifnu Wikana dan Butet Kartaredjasa. Pada konser mendatang aktor multitalenta Reza Rahardian juga dipertemukan kembali dengan Chelsea Islan setelah keduanya mengisi pertunjukkan ‘Bunga Setengah Abad’ pada tahun-tahun sebelumnya.

Pementasan ini juga menghadirkan sutradara dan aktor teater kawakan Wawan Sofwan dan Iswadi Pratama serta penyair Warih Wisatsana yang akan berperan sebagai Narator. Pemain harpa Indonesia Maya Hasan juga akan tampil untuk mengiringi konser musikal tersebut.

Selain menampilkan puisi, koreografi dan nyanyian, pementasan kali ini juga berkolaborasi dengan perancang busana ternama tanah air Biyan Wanaatmadja untuk melestarikan kain tradisional Indonesia. Pemain dalam pementasan ini akan mengenakan busana yang dirancang khusus dibuat oleh Biyan dan menggunakan kain tenun Baron dari Jepara, Jawa Tengah.