Screen Shot 2019-08-21 at 1.22.17 PM.png

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Cannes International Film Festival adalah salah satu festival film tahunan terbesar yang diadakan di Cannes, Prancis. Festival ini menayangkan film-film baru dari seluruh dunia yang meliputi semua genre termasuk film dokumenter. Tidak hanya itu, tujuan dari festival ini juga untuk menemukan bakat baru dalam bidang perfilman. Untuk beberapa kesempatan, pada tahun 1998, 2005, 2015, dan 2017, beberapa film Indonesia berhasil ditayangkan dalam Festival Film Internasional Cannes. Penasaran film apa saja yang tampil? Yuk, simak di sini.

Tjoet Nja’ Dhien (1998)
35608377486_a71577412e_b.jpg

Foto: Flickr

Tjoet Nja’ Dhien merupakan film Indonesia pertama yang berhasil tayang di Cannes pada tahun 1998. Film ini disutradarai oleh Eros Djarot dan dibintangi oleh Christine Hakim, Rudy Wawor, serta Slamet Rahardjo. Film berdurasi 150 menit ini menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan asal Aceh, Tjoet Nja’ Dhien, bersama rekan-rekannya melawan Belanda. Pada saat itu, Belanda menduduki Aceh waktu masa penjajahan Belanda. Meskipun Tjoet Nja’ Dhien mengalami sakit encok dan juga rabun, namun semangatnya tidak pernah patah dan ia terus berjuang.

Daun di atas Bantal (1998)
Daun_di_Atas_Bantal.jpg

Foto: Wikipedia

Film ini merupakan hasil karya anak bangsa yang berhasil ditayangkan di Cannes di tahun yang sama, yaitu 1998. Disutradarai oleh Garin Nugroho dan diproduksi oleh Christine Hakim, Daun di atas Bantal menceritakan tentang masyarakat Indonesia yang terlupakan dan yang terpinggirkan bak debu ke ujung ranjang, menggambarkan keadaan negara pada saat itu. Saat itu, ketika Indonesia merdeka, hukum mengatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak yang terlantar harus dipelihara oleh negara. Namun kenyataannya, hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya dan kelompok masyarakat ini malah terbengkalai.

Kara, Anak Sebatang Pohon (2005)
kara-anak-sebatang-pohon-2.jpg

Foto: jurnalfootage.net

Kara, Anak Sebatang Pohon yang disutradarai oleh Renate Tombokan berhasil lolos dan mendapat kesempatan untuk tayang di Cannes pada tahun 2005. Film ini juga berhasil tayang di Taipei pada Golden Horse Film Festival di tahun yang sama. Kara, Anak Sebatang Pohon menceritakan tentang seorang gadis kecil yang hidup di tempat terpencil. Suatu ketika, ayahnya tiba-tiba menghilang setelah ibunya dibunuh oleh seseorang bernama Ronald. Namun, seorang wartawan hadir dalam kehidupannya dan Kara memutuskan untuk menanyakan sebuah pertanyaan penting kepada wartawan tersebut.

The Fox Exploits the Tiger’s Might (2015)
MV5BYTVkODdmZjMtNzMyOS00YzBjLWI2NWYtMjVlNjRjZjkwN2MwXkEyXkFqcGdeQXVyNjc4NTM1MTc@._V1_.jpg

Foto: IMDb

The Fox Exploits the Tiger’s Might yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi berhasil meraih penghargaan sebagai film pendek terbaik di Cannes pada tahun 2015. Film ini menceritakan tentang dua orang laki-laki praremaja: David, anak dari seorang petinggi tentara, dan Aseng, anak seorang penjual miras dan tembakau selundupan. David dan Aseng sama-sama bergelut dengan perkembangan seksualitas mereka. Selain itu, film ini juga mengisahkan hubungan antara seks dan kekuasaan di sebuah kota kecil yang merupakan wilayah berbasis militer.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)
Marlina-the-Murderer-in-Four-Acts.jpg

 Foto: communityreelartscenter.org

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak tayang di Cannes pada tahun 2017. Film karya Mouly Surya yang dibintangi oleh Marsha Timothy ini merupakan satu-satunya film panjang dari Asia Tenggara yang berhasil tayang di festival film kondang tersebut pada tahun itu. Marlina menuai banyak pujian dari pecinta film internasional. Film ini mengisahkan tentang Marlina, seorang janda asal pulau Sumba, yang diserang dan dirampok oleh sekelompok pria. Untuk melindungi dirinya, Marlina memenggal kepala dari ketua kelompok tersebut. Setelah itu, Marlina menempuh perjalanan panjang menuju kantor polisi dengan membawa kepala yang dipenggalnya itu.

Baca juga: Sederet Produk Make-Up Yang Dipakai Selena Gomez Di Cannes Film Festival