Screen Shot 2019-06-14 at 3.18.24 PM.png

Setelah dipentaskan di sembilan negara dan 12 kota besar di dunia, I La Galigo kembali hadir di Indonesia. Pertunjukan teater yang terinspirasi dari sastra klasik Sulawesi Selatan, Sureg La Galigo ini akan dipentaskan di Ciputra Artpreneur Jakarta pada 3, 5, 6, dan 7 Juli 2019 mendatang. 

Sureq Galigo sendiri adalah sebuah epos tentang mitos penciptaan suku Bugis yang terabadikan lewat tradisi lisan dan naskah-naskah; terekam dalam bentuk syair (circa abad ke-13 dan ke-15) dan dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno yang juga ditulis dalam huruf Bugis kuno. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima yang menceritakan kisah asal usul manusia.

Diawali dengan cerita penciptaan dunia dan diakhiri dengan ditutupnya batas dunia atas dan dunia bawah sehingga manusia yang hidup di dunia tengah dapat hidup normal selayaknya manusia. Di tengah-tengahnya ada cerita-cerita, mulai dari kisah cinta yang tabu, peperangan dengan Kerajaan dari Tiongkok, sampai tipu daya yang diberkati dewata untuk menaklukan seorang perempuan.

I La Galigo yang disutradarai Robert Wilson ini pertama kali dipentaskan (world premiere) pada 2004 di Esplanade Theatres on the Bay. Pementasan ini telah dipentaskan di berbagai negara seperti Lincoln Center Festival (New York) , Het Muziektheater (Amsterdam), Fòrum Universal de les Cultures (Barcelona), Les Nuits de Fourvière (Rhône-France), Ravenna Festival (Italy), Metropolitan Hall for Taipei Arts Festival (Taipei), Melbourne International Arts Festival (Melbourne), Teatro Arcimboldi (Milan), sebelum akhirnya kembali ke Makassar untuk dipentaskan di Benteng Rotterdam, dan baru-baru ini dipilih sebagai pementasan khusus berkelas dunia pada saat Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 di Bali.

Pertunjukkan pertama ini telah banyak menuai pujian. Bahkan, media sekelas The New York Times pun tak segan menyebutnya "stunningly beautiful music-theater work" ketika I La Galigo menjadi pembuka pada Festival Lincoln Center 2005. Pada tahun 2019 ini untuk kedua kalinya, dengan jarak kurang lebih 18 tahun, I La Galigo kembali ke Jakarta. Seakan mengingatkan dan mengajak kembali generasi muda Indonesia untuk tidak melupakan suatu budaya agung bangsa sendiri.

"I La Galigo merupakan sebuah harta seni budaya Indonesia. Kehebatan karya ini telah dihargai dan diakui oleh masyarakat internasional, hingga kini. Sudah selayaknya masyarakat Indonesia dapat menyaksikan sebuah pentas mahakarya yang tak kalah menarik dengan kisah epik lainnya," ucap Ketua Yayasan Bali Purnati dan Direktur Artistik I La Galigo, Restu Kusumangingrum. 

Pementasan Kelas Dunia 

Screen Shot 2019-06-14 at 3.18.35 PM.png

Pada konferensi pers yang diadakan di Galeri Indonesia Kaya pada 13 Juni, Restu mengatakan bahwa timnya sudah melalui persiapan yang matang. Bagaimana tidak, semua keperluan seperti tata panggung, riasan wajah, kostum, tata cahaya, serta koreografinya pun sangat diperhatikan secara teliti. 

Karya musik-teater I La Galigo ini bercerita melalui tarian, gerak tubuh, soundscape dan penataan musik gubahan maestro musik Rahayu Supanggah di bawah penyutradaraan salah satu sutradara teater kontemporer terbaik dunia saat ini, Robert Wilson. Pertunjukan yang berdurasi dua jam ini akan amat memukau karena tata cahaya dan tata panggung yang spektakuler.

Tidak hanya itu, pertunjukan ini juga merupakan bentuk usaha pelestarian budaya Indonesia yang dapat membuka wawasan masyarakat modern agar dapat lebih menghargai budaya. Nilai yang dapat diambil pun merupakan salah satu rujukan untuk menghargai persamaan sekaligus mampu bertoleransi terhadap perbedaan. Selain itu tidak menutup kemungkinan akan mendorong keingintahuan masyarakat untuk lebih dalam menggali dan mempelajari naskah kuno yang belum sepenuhnya terungkap ini.

Tiket pertunjukkan dimulai dari harga Rp 475.000. Bagi pemegang kartu Kredit BCA bisa mendapatkan diskon sebesar 25% untuk pembelian tiket I La Galigo kelas apapun. Dapatkan informasi promo menarik lainnya di Instagram @artpreneur, atau Facebook Ciputra Artpreneur.