Begitu banyak klaim yang disampaikan oleh produsen produk kecantikan. Karena itu, ada baiknya kita mengerti tentang berbagai istilah yang mereka gunakan. Hati-hati, jangan sampai menjadi korban greenwashing, alias produk yang dipasarkan sebagai ramah lingkungan, padahal kenyataannya tidak. 

 

1/6 Cruelty-free

OK.pngFoto:Dok.unsplash.com

Kalau ada ikon sertifikasi Leaping Bunny di kemasan, maka produk tersebut berarti tidak menggunakan hewan percobaan dalam proses pengembangan produknya. 


2/6 Eco-friendly

2 noah-buscher-x8ZStukS2PM-unsplash.jpgFoto:Dok.unsplash.com

Istilah ini bisa berarti beberapa hal, seperti komitmen perusahaan untuk secara aktif berusaha untuk mengurangi jejak karbon atau bahkan karbon netral. Jadi, perusahaan akan menghitung sisa buangan CO2 ketika membuat dan mengirim produk, lalu mengkompensasinya dengan menyumbangkan sejumlah uang ke program keseimbangan karbon. 


3/6 Ethical

3 p.jpgFoto:Dok.unsplash.com

Beberapa syarat untuk menjadi perusahaan seperti ini misalnya adalah memiliki sistem pengolahan limbah yang baik, bekerja sama dengan lembaga amal, serta menggunakan bahan baku yang sumbernya bisa dipertanggungjawabkan. 


4/6 Sustainable

4p.jpgFoto:Dok.unsplash.com

Termasuk dalam kategori ini di antaranya adalah menggunakan bahan baku yang sumbernya bisa dipertanggungjawabkan dan memiliki kemasan yang berasal dari bahan daur ulang atau dapat terurai dengan alami.


5/6 Waterless

asik.jpgFoto:Dok.unsplash.com

Penggunaan air dalam proses formulasi produk sangatlah boros, mencapai 80%. Padahal manusia membutuhkan air dalam berbagai sektor kehidupan. Karena itu, produk yang tidak mengandung air dianggap baik bagi lingkungan. 


6/6 Zero-waste

Tanpa judul(1).jpgFoto:Dok.unsplash.com

Kemasan yang berasal dari bahan daur ulang atau bisa dipakai ulang biasanya berasal dari bambu atau kaca. Selain itu, produk yang biasa berbentuk cair dan dikemas dalam botol plastik, seperti sampo, kini hadir dalam bentuk batangan.