Pada bulan lalu, dunia mode internasional sempat digemparkan dengan kabar mengejutkan yang datang dari salah satu clothing brand ternama asal Amerika, Forever 21. Pasalnya, Forever 21 dikabarkan menuju ambang kebangkrutan dan akan menutup berbagai tokonya di seluruh dunia. Namun, kabar ini pun bukan tanpa alasan. Dilansir dari The New York Times, satu alasan besar yang menjadi penyebab jatuhnya Forever 21 terletak pada manajemen yang dilakukan oleh pendiri dari rumah mode ini yaitu pasangan imigran asal Korea Selatan Jin Sook dan Do Won Chang. 

Pada masa kejayaannya, brand ternama ini sempat menghasilkan lebih dari  4 miliar dolar AS dalam penjualan tahunannya dan memperkerjakan lebih dari 43.000 orang di ratusan tokonya yang tersebar di berbagai belahan dunia. Dilansir dari Business of Fashion, saat ini Forever 21 telah meninggalkan 40 negara dan menutup hingga 199 lebih dari 30 persen tokonya di AS. 

 forever 21.jpgSumber: Dok. The Straits Times

Menanggapi kemunduran ini, beberapa pegawai Forever 21 mengungkapkan kepada New York Times bahwa keluarga Chang kerap menghadapi kesulitan dalam merekrut orang-orang yang berpengalaman dan sulit mempercayai beberapa outsiders atau orang luar yang berusaha membantu memperbaiki bisnisnya. Tidak hanya itu saja, pasangan suami istri ini pun kerap merekrut para ahli untuk merombak berbai strategi bisnis, namun kemudian mengabaikan rekomendasi mereka tentang hal tersebut, mulai dari teknologi baru hingga pemasaran.

Tidak hanya itu saja, kemunduran dari Forever 21 ini kerap terasa ketika mereka melebarkan usahanya secara agresif dengan membuka banyak toko baru di dalam pusat perbelanjaan. Tidak tanggung-tanggung, brand ini pun berhasil menempati toko bekas Mervyn's yang telah bangkrut dan toko lainnya seperti Sears, Saks and Borders. 

Dengan waktu sewa yang panjang dan kemajuan e-commerce yang mulai menjamur juga menimbulkan dilema bagi beberapa toko yang ada di pusat perbelanjaan. Hal ini pun tentunya mempengaruhi kemampuan Forever 21 dalam mengisi toko dengan barang baru. 

Dikutip dari Business of Fashion, Linda Chang sempat mengakui bahwa sangat sulit bagi perusahannya untuk mengisi toko dengan barang baru apalagi saat harus "berurusan dengan ekspansi berskala internasional yang ia lakukan." Ditambah dengan masa sewa Mervyn's masih akan berakhir di tahun 2027 atau 2028. 

Sehubungan dengan hal ini, Forever 21 tetap menolak menutup lokasi yang tidak memberi keuntungan yang besar. Bahkan, seperti yang diungkapkan mantan pegawainya, Forever 21 terkadang hanya memindahkan tokonya ke lokasi lain di pusat perbelanjaan yang sama.

Selain itu, Forever 21 dianggap selalu terburu-buru dalam membuka cabang di luar AS tanpa mempelajari terlebih dahulu kebiasaan warga lokal yang ada di negara tersebut, misalnya seperti tidak mengetahui jika warga di beberapa kota Eropa membeli pakaian musim dingin lebih awal dibanding konsumen di Amerika Serikat. 

Meski demikian, beberapa ahli bisnis dalam bidang mode menyatakan bahwa brand asal Amerika Serikat ini dapat melakukan perombakan bisnis di tengah maraknya e-commerce yaitu dengan beralih dari offline ke online. Hal ini dipertimbangkan berdasarkan pasar Forever 21 yang mayoritas milenial dan gen Z yang cenderung lebih masif belanja secara online

Baca juga: 5 Tas Ikonik Gucci Yang Harus Dimiliki Setiap Wanita Dalam Koleksinya

Tags: Fashion, Forever 21, Bangkrutnya Forever 21