Sejak jaman dahulu kala, para pemuja kecantikan telah menggunakan berbagai metode treatment yang tidak biasa untuk merawat kecantikan kulit mereka. Sebelum adanya invasi berbagai peralatan kecantikan yang modern, tim editorial Tatler Indonesia menelusuri kembali perawatan kecantikan mewah yang digunakan oleh para petinggi dengan menggunakan bahan-bahan yang terbilang cukup istimewa. Mulai dari penggunaan bubuk mutiara hingga perawatan dengan menggunakan kotoran burung, treatment perawatan wajah ini beberapa memang sedikit ekstrim. Dare to try?

1/5 Veal Beauty

Screen Shot 2022-06-13 at 16.30.43.pngFoto: Dok. Unsplash.com

Permaisuri Elizabeth I dari Austria dan Ratu Hongaria, atau lebih dikenal dengan sebutan Sisi, merupakan salah satu figur yang dikenal di seluruh kawasan Australia berkat kecantikannya yang luar biasa. Sang ratu memiliki rambut panjang nan menawan yang membutuhkan waktu panjang untuk ditata, proporsi tubuh yang langsing berkat olahraga keras dan pengencang perut, serta tampilan awet mudanya—dimana sang Ratu disebut sebagai salah satu figur wanita yang terobsesi memelihara kulit wajahnya.  

Di kala itu, Sisi terkenal sering mengenakan sebuah “topeng kulit” yang berisikan potongan daging sapi mentah atau stroberi yang sudah dihancurkan terlebih dahulu sebelum diaplikasikan ke wajah saat tidur—sama seperti masker wajah yang biasa kita gunakan sehari-hari. Buah stroberi merupakan sumber alami dari asam alfa-hidroksi dan vitamin C, dimana kandungan bahan tersebut dapat mencerahkan wajah dan menghaluskan kulit. Sedangkan lemak dan protein dalam daging sapi muda akan menjaga kelembaban kulitnya. 

Karena beberapa pembaca mungkin akan sedikit terobsesi untuk mencoba menggunakan cara tersebut, cukup gunakan toner glikolat untuk mendapatkan efek yang sama, serta lebih cepat dan lebih bersih dibanding memakai cara tradisional tersebut.

2/5 Pearl World

Screen Shot 2022-06-13 at 16.32.03.pngFoto: Dok. Unsplash.com

Saat ini, penggunaan bubuk mutiara menjadi salah satu bahan yang umum digunakan dalam formula krim wajah. Namun nyatanya, penggunaan bahan mewah tersebut telah diterapkan dalam treatment perawatan kulit yang sudah ada sejak tahun 320 M di Cina. Mutiara air tawar tersebut dihancurkan dan dikonsumsi dalam ramuan pengobatan tradisional Tiongkok yang dirancang untuk mengobati berbagai keluhan, seperti penyakit mata. Pada tahun 1596, buku medis berjudul Bencao Gangmu menyatakan bahwa bubuk mutiara juga dapat merangsang pertumbuhan sel kulit baru dan memperbaiki kerusakan akibat sinar matahari dan bintik-bintik gelap—dimana pengaplikasiannya bisa digunakan secara eksternal juga. 

Permaisuri Wu Zetian, yang terkenal karena kecakapan politik dan kecantikannya, juga menggunakan bubuk mutiara dalam rutinitas perawatan kulitnya. Sang permaisuri mencampurnya dengan putih telur untuk digunakan sebagai masker. Mutiara mengandung asam amino dan memiliki konsentrasi kalsium yang tinggi sehingga membantu proses perbaikan kulit. Karena kombinasinya dengan protein dari telur, hal itu akan membuat masker pengencang wajah tersebut tidak sepenuhnya absurd untuk digunakan saat ini.

3/5 Faecal Facial 

Screen Shot 2022-06-13 at 16.32.34.pngFoto: Dok. Unsplash.com

Selama periode Heian yang berlangsung di 794 hingga 1185 M, para wanita penghibur atau geisha menggunakan satu metode treatment kecantikan tertentu untuk membersihkan wajah mereka secara mendalam setelah menghapus riasan makeup. Uguisu no Fun, atau secara harfiah disebut dengan “kotoran burung bulbul”, merupakan sebuah praktek kecantikan yang diperkenalkan ke Jepang oleh orang Korea. Dulunya, praktek ini digunakan untuk menghilangkan noda dari sutra. Namun, para geisha menemukan bahwa racikan tersebut juga bekerja untuk mencerahkan warna kulit dan mengobati hiperpigmentasi. Mereka akan mengeringkan kotoran burung Uguisu terlebih dahulu, lalu kemudian menghancurkannya dan mengoleskannya ke wajah mereka. 

Kotoran burung tersebut mengandung konsentrasi urea yang tinggi, dimana memiliki sifat menghidrasi kulit, mengangkat sel-sel kulit mati yang menumpuk, serta memperbaiki tekstur kulit kering. Namun, dibanding mengolesi wajah Anda dengan kotoran burung, pilihlah pembersih atau krim yang mengandung urea, yang secara bertahap akan mengelupas sembari mempertahankan tone warna kulit.

4/5 Dairy Queen 

Screen Shot 2022-06-13 at 16.31.09.pngFoto: Dok. Unsplash.com

Warisan Cleopatra, penguasa Mesir dari dinasti Ptolemy sekaligus Firaun Mesir yang terakhir, mencakup sastra abad pertengahan, seni Renaisans, budaya populer Victoria, dan film Hollywood. Legenda rutinitas kecantikannya masih dibahas sampai sekarang, meskipun menarik banyak spekulasi dari orang banyak. Banyak sumber sejarah menyebutkan bahwa sang penguasa melakukan rutinitas mandi dengan susu kambing atau keledai untuk mempertahankan kulit yang bersih. 

Bagaimanapun, praktik tersebut memiliki pengakuan ilmiah karena susu mengandung asam laktat yang mengelupas sel kulit mati dengan lembut dan memiliki kandungan lemak yang melembabkan kulit. Manfaat ini telah dibahas sejak lama seperti yang ditulis oleh Pliny the Elder, yang menulis dalam Natural History-nya: 

“Secara umum dipercaya bahwa susu kedelai dapat menghilangkan kerutan di wajah, membuat kulit lebih halus, dan mempertahankan kecerahan kulit. Bahkan, beberapa wanita disebut memiliki kebiasaan mencuci muka dengan susu kedelai sebanyak tujuh kali sehari dan sangat ketat dalam melakukan rutinitas tersebut”.

Saat ini, susu terus menjadi bahan populer dalam pembersih, serum, masker, dan krim untuk khasiat yang tepat ini.

5/5 Rich Red 

Screen Shot 2022-06-13 at 16.31.24.pngFoto: Dok. Unsplash.com

Pada dinasti Silla yang terjadi pada periode 57 Before Christ , Anno Domini 954, masyarakat Korea melihat sebuah perkembangan praktik kecantikan dimana melibatkan rutinitas mandi teratur, terobsesi dalam menjaga kulit, memakai riasan warna-warni, wig berkualitas tinggi, serta penggunaan aksesori emas. Hal ini berakar dari ideologi bahwa “di dalam tubuh yang indah terdapat jiwa yang indah”, sehingga penting bagi wanita—terutama bangsawan dan kalangan atas—untuk menjaga penampilannya. Salah satu tren tata rias yang berkembang pada era ini adalah pengaplikasian yeonji, sebuah pigmen merah yang terbuat dari safflower yang digunakan untuk mewarnai bagian pipi dan bibir. Penggunaan pigmen tersebut juga diterapkan pada dahi dan dagu untuk praktik pernikahan yang disebut dengan yeonji gonji untuk mengusir roh jahat. 

Popularitas gaya make-up ini kemudian tersaring ke kelas bawah. Tren ini kemudian semakin redup saat dinasti Goryeo, dimana tampilan makeup tebal tersebut tidak lagi terlihat modis dan bergeser ke make-up ringan dan fokus pada kulit yang bercahaya.