2-jpg.jpgFoto dok: Louis Vuitton

Menempatkan mode sebagai sebuah kultur budaya sejak tahun sejak 1854, kali ini label ternama Louis Vuitton melanjutkan kembali pertunjukan fashion show untuk koleksi Men Spring Summer 2021 Tokyo Collection.

Pada awal musim panas yang lalu, Virgil Abloh sebagai Artistic Director dari rumah mode ternama Louis Vuitton mengumumkan bahwa koleksi terbaru menswear LV untuk pertama kalinya akan dipamerkan secara bertahap dari satu tempat ke tempat lainnya, sesuatu yang belum pernah dilakukan maupun diperlihatkan pada dunia. Setelah memamerkan sebagian koleksinya di Shanghai pada 6 Agustus lalu, kali ini rangkaian terakhir dari koleksi tersebut akan dipamerkan di Tokyo dimana rumah mode Prancis tersebut membuka tokonya yang didedikasikan khusus untuk men's ready-to-wear collections untuk pertama kalinya dalam sejarah. 

8-jpg.jpgFoto dok: Louis Vuitton

Tema "Travelling Trunk" yang ditampilkan tetap menjadi tema utama pembukaan koleksi pakaian pria Louis Vuitton musim ini. Penumpang gelap yang dikenal sebagai Zoooom bersama teman-temannya yang telah menemani perjalanan fashion show di Shanghai kemarin juga turut memeriahkan dengan menggelar parade unik mengenai inclusivity and unity

Merayakan multikulturalisme, koleksi LV Men Spring Summer 2021 Tokyo Collection pun juga mengangkat sejarah antar dua budaya. Pada tahun 1960-an, sebuah musical dialogue antara Jamaika dan subkultural Inggris diwujudkan dalam genre ska yang memikat, dimana koleksi Louis Vuitton bertajuk “Message in a Bottle” kali ini berkembang menjadi two-tone and ska punk. Menyatukan berbagai macam orang dengan latar yang berbeda-beda, koleksi ini mendemonstrasikan sebuah kekuatan musik dan fashion antara pakaian Jamaika dan interpretasi subkultural dari teknik penjahitan Inggris.

26-jpg.jpgFoto dok: Louis Vuitton

Pada runway Spring-Summer 2021, Virgil memperlihatkan pengaruh gabungan kultur antara leluhur dan suku urban, kenangan masa kecil, dan tentunya sebuah kemajuan. Transisi inilah yang didukung oleh ideologi daur ulang milik sang desainer, mulai dari kenangan sampai dengan materialnya, koleksi tersebut meleburkan masa lalu dan didaur ulang untuk mendapatkan nilai yang berharga untuk masa depan. Tidak hanya itu, koleksi ini juga mempresentasikan Afrofuturisme, sebuah studi tentang identitas kulit hitam yang memiliki koneksi dengan teknologi, retro-futurisme, dan futurisme, dimana mengusulkan konsep persatuan dan perdamaian.