Berita mengejutkan datang dari retailer fashion asal Inggris, Topshop, yang dikabarkan akan menutup seluruh gerainya di Amerika Serikat. Pasalnya keputusan yang diambil untuk menutup seluruh gerainya ini merupakan sebuah gerakan yang dipicu oleh Arcadia Group.

Arcadia Group sendiri adalah perusahaan pendahulu yang menutup 200 gerai butik di Inggris pada tiga tahun terakhir. Selanjutnya penutupan yang terjadi di Amerika Serikat adalah sebuah bentuk dorongan yang dilakukan Arcadia Group untuk mencegah terjadinya kebangkrutan. Hal itu kemungkinan menyebabkan hilangnya lapangan kerja bagi para pegawai Topshop.

Perusahaan yang juga menaungi beberapa lini perusahaan seperti Miss Selfridge, Burton, Evans, Dorothy Perkins, dan Wallis mengungkapkan pada BBC bahwa “penutupan ini sulit tetapi perlu dilakukan”.

Sebelumnya Topshop telah mengahdapi berbagai rintangan, seperti pada tahun 2018 lalu ketika Beyonce mengumkan perpisahannya dengan Topshop dan beralih kepada Adidas setelah dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pimpinan Topshop Sir Phillip Green. 

Sebelum terjadi penutupan, Arcadia Group memiliki setidaknya 1.170 gerai butik di 36 Negara yang berdiri di 566 lokasi di Inggris dan Irlandia serta memperkerjakan sebanyak 18ribu orang.

Namun ini bukanlah akhir dari era ritel asal Eropa tersebut, Topshop dan Topman Sendiri akan melanjutkan penjualannya melalui situs resmi dan ritel partner mereka.


Baca Juga: Gucci Hadirkan Pagelaran Spektakuler Di Bangkok, Thailand Untuk Koleksi Spring/ Summer Musim Ini

Tags: Arcadia Group, Sir Philip Green, Topshop