startup-593341_960_720.jpg

Photo: Pixabay

Belum lama berlalu, media sosial diramaikan dengan berita seputar debat capres yang mediskusikan tentang dunia startup. Dari sekian banyak definisi startup yang dikemukakan oleh para ahli dan praktisi, ada satu kutipan yang paling berkesan yang ditulis oleh pengarang buku asal Amerika Serikat, Eric Reis, yang berbunyi, “A startup is a human institution designed to deliver a new product or service under conditions of extreme uncertainty.”

Dari kutipan tersebut, kata kunci yang perlu digarisbawahi adalah ‘deliver new product/service’ dan ‘under condition of extreme uncertainty’. Jadi poin penting dari sebuah startup adalah bisa dibilang memberikan produk atau layanan baru dan dalam kondisi yang penuh ketidakpastian.

Produk di sini sudah pastinya akan terkait dengan bagaimana upaya sebuah startup dalam menggunakan teknologi untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada. Sementara kondisi yang penuh ketidakpastian, mengacu pada belum terujinya suatu produk atau jasa dan apakah akan disukai dan digunakan oleh banyak orang.

Baca juga: Mulai Dari Konsultasi Online Hingga Jasa Homecare, Ini 5 Startup Indonesia Di Bidang Kesehatan

Karena produk tersebut belum teruji, maka bisa dikatakan solusi yang ditawarkan oleh startup masih berupa asumsi. Oleh sebab itu banyak sekali teori, kajian, teknik dan metode yang di tulis oleh para ahli dan praktisi untuk memastikan bagaimana suatu produk yang di tawarkan dapat tervalidasi di dalam pasar.

Jika produk dan layanan dari startup tersebut sudah berkembang dengan berbagai indikator, misalnya jumlah pengguna aktif yang tinggi, lamanya user menggunakan aplikasi, terciptanyanya pendapatan dan keuntungan, serta indikator lainnya, maka startup tersebut bisa dikatakan sudah teruji dan terbukti.

Lalu bagaimana hubungan startup dengan ‘unicorn’? Unicorn sendiri merupakan istilah yang mengacu pada startup, yang nilai kapitalisasinya lebih dari 1 miliar dolar Amerika. Istilah unicorn sendiri di lontarkan oleh Aileen Lee, seorang pemodal usaha dari Cowboy Ventures yang mengacu pada kisah hewan mitos yang sangat langka. Indonesia sendiri saat ini sudah memiliki 4 unicorn, yaitu dari Gojek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak.

Lalu apa hubungannya startup dan unicorn terhadap tren gaya hidup ? Menurut saya, hubungannya sangat erat dan bahkan saling memengaruhi. Setidaknya ada 3 premis yang bisa kita diskusikan.

Baca juga: A Brief Look At 4 Unicorn Startups in Indonesia

Pertama, dari aspek basic needs alias kebutuhan dasar. Manusia merupakan satu-satunya mahluk yang selalu berupaya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidupnya. Manusia juga dikenal dengan makhluk yang tidak pernah puas. Jadi adagium utama dari sebuah startup adalah untuk mengidentifikasi sebuah masalah, dan kemudian mencarikan solusi yang nantinya akan menghasilkan keuntungan.

Dapat disimpukan bahwa sepanjang ada hasrat untuk memenuhi kebutuhan manusia yang makin beragam dan kompleks, maka sepanjang itu pula upaya sebuah startup untuk melahirkan ide-ide baru untuk terus melayani penggunanya.

Kedua, dari aspek tren teknologi. Perkembangan teknologi saat ini sudah begitu cepat, saking cepatnya, belum saja kita khatam terhadap suatu teknologi, kita sudah dicekoki dengan teknologi yang baru. Belum selesai kita menggunakan suatu produk, sudah muncul lagi produk yang baru.

Bisakah kita mengejarnya ? Menurut banyak ahli, kemungkinannya hampir tidak bisa, karena memang teknologi akan selalu mencari bentuk baru dengan jargon ‘bigger, smaller, faster, thinner’, dan seterusnya.

Jadi sepanjang terus ditemukannya inovasi baru, maka sepanjang itu pula para startup akan terus mengeksploitasi teknologi untuk terus menyediakan produk yang terbaru dan tercanggih.

Ketiga, dari aspek psikologis. Manusia memiliki karakter dasar untuk selalu mencari kebahagiaan, kepuasaan, ingin diakui, kebutuhan untuk eksis dan ekspressi jiwa lainnya. Maka sepanjang itu pula ide-ide startup akan memenuhi ruang-ruang publik dan privasi kita.

Jadi, selamat datang di era yang penuh kejutan sekaligus penuh tantangan. Sebagai penutup dan harapan, semoga kita terus melakukan pendefinisian tentang kita terhadap dunia bukan sebaliknya dunia yang mendefinisikan tentang kita.

Penulis: M. I. Bintang, penggiat startup dan product enthusiast, dapat dikontak melalui Twitter (@milhambih), Facebook (https://www.facebook.com/m.i.bintangdarusalam), atau Linkedin (https://www.linkedin.com/in/m-i-bintang-82039829/). Isi tulisan adalah seluruhnya milik dan tanggung jawab penulis.

Baca Juga: 9 Useful Tips For Millennials To Land Their Dream Startup Jobs