Para figur sukses memiliki satu pinsip yang sama. cara terbaik untuk mengubah dunia dimulai dari  pendidikan. Itulah mengapa mereka mengabdikan hidup mereka untuk membuat pendidikan lebih adil dan meningkatkan sistemnya. Melalui hadiah global, platform edtech online, dan sistem gamifikasi, siswa diberikan lebih banyak cara untuk mengejar mimpi yang cerah.


1/4 Alamanda Shantika, Indonesia

alamanda-560x420.jpeg

Foto: Dok. instagram.com

Alamanda Shantika, mantan VP Product di GoJek yang saat ini menjadi Presiden Direktur di Binar Academy,  hidup dengan kata-kata ini, "turn your anxiety into power". Baginya quotes tersebut telah membuat banyak perubahan.

Sejak usia muda, Shantika diberkahi dengan rasa ingin tahu yang kuat untuk belajar, dan ia menemukan dirinya tenggelam dalam dunia STEM, matematika & coding. Namun, dimasa SMA Shantika menghadapi kesulitan keuangan karena salah satu anggota keluarganya sakit. Dengan cepat, naluri kewirausahaannya muncul, dan dia memanfaatkan kemampuan coding-nya untuk membuat layanan pengembangan web guna memastikan kemandirian finansial. Dorongan dan kecerdasan yang digunakan Shantika di usia yang begitu muda tampaknya telah berbuah hasil.

Pada tahun 2014, Shantika bergabung dengan Gojek yang saat itu baru berdiri selama 4 tahun. Di sana, dia memimpin tim produk. Di bawah gaya kepemimpinannya yang sangat komunikatif, mudah didekati, dan berorientasi pada orang, ia memunculkan mobile app yang menghubungkan ojek driver dengan konsumen (yang kita gunakan saat ini). Ia berperan penting dalam awal mula Gojek menjadi perusahaan unicorn pada tahun 2016.

Sekarang, Shantika telah beralih ke usaha lain, memprioritaskan pekerjaan yang dapat berdampak positif pada lebih banyak kehidupan. Saat ini dirinya menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Mandiri Capital Indonesia (MCI), Committe Member di Hermina Hospital Group, dan seperti yang disebutkan sebelumnya, Presiden Direktur di Binar Academy, dimana ia berharap dapat meningkatkan taraf hidup lebih banyak orang dengan menyediakan layanan yang membuka jalan bagi digital talent generasi penerus Indonesia untuk lebih meningkatkan ekosistem teknologi Indonesia.

Now, what’s the one legacy Shantika wants you to remember her by? Bukan namanya, bukan pujiannya. Melainkan, seperangkat nilai - untuk tidak mementingkan diri sendiri, dan hidup untuk dan membantu sebanyak mungkin orang.

2/4 Charles Chen Yidan, Hong Kong

IMG_2897.JPGFoto: Dok. Callaghan Walsh

Charles Chen Yidan yang merupakan co-founder Tencent, sebuah perusahaan teknologi China. Ia telah mendedikasikan hidupnya untuk mengubah pendidikan. Pada tahun 2016, ia mendirikan Yidan Prize, penghargaan global untuk mengapresiasi individu atau tim yang memberikan kontribusi positif dalam dua kategori pendidikan: research dan pengembangan. Selain medali emas, para pemenang menerima hadiah HK$30 juta (sekitar US$3,9 juta)—setengah dalam bentuk tunai dan sisanya sebagai dana untuk mengembangkan inisiatif mereka.

“I wanted to set up a platform that would allow the global community to share new ideas and discuss issues related to the current and future development of education and its effect on future generations,” Ujarnya kepada Tatler Asia.

Penerima Yidan Prize tahun lalu termasuk Profesor Eric A. Hanushek, yang penelitiannya telah memengaruhi kebijakan pendidikan, serta Dr Rukmini Banerji, CEO Pratham Education Foundation. Yayasan tersebut telah bermitra dengan pemerintah negara bagian India untuk Teaching at the Right Level program (program pengajaran di tingkat yang tepat).

Bulan ini, Yidan Prize Foundation, bersama dengan Brookings Center for Universal Education, mengadakan 3 part online series. Didalamnya akan mengeksplorasi topik yang muncul dalam pendidikan seperti metaverse, refugee education, dan pendidikan pasca-Covid.

 

3/4 Henry Motte-Muñoz, Philippines

Screen Shot 2022-06-21 at 8.02.38 PM.pngFoto: Dok. Edukasyon.ph

Henry Motte-Muñoz menyediakan akses yang lebih besar untuk learning & beyond melalui Edukasyon.ph. Portal online-platform teknologi pendidikan terbesar di Filipina yang menghubungkan anak muda dengan peluang pendidikan di seluruh dunia, serta membantu mereka mengembangkan skill, offers guidance for internship, job listings, dan career paths.

Untuk melengkapi student-focused service, platform tersebut telah meluncurkan layanan on demand Edge Tutor pada Juni 2022 ini, layanan tersebut menawarkan kurikulum yang “melebihi standar internasional” untuk anak-anak berusia empat tahun.

“My dream is for a country where students don’t just get access to a quality academic education but a holistic one as well,” ujar Motte-Muñoz kepada Generation T, Ia juga lanjut menyampaikan bahwa “Being educated is not just about getting a degree; it’s about picking up skills that prepare you for the workplace and becoming a responsible citizen who knows how to vote and pay taxes, one who cares for the environment and cares about and understands our history.”


4/4 Benson Yeh, Taiwan

Screen Shot 2022-06-21 at 8.02.44 PM.pngFoto: Dok. PaGamO

Untuk mendisrupsi proses pembelajaran, Benson Yeh mendirikan BoniO, perusahaan teknologi yang menyalurkan ‘the power of game’ untuk pendidikan, serta PaGamO, platform pembelajaran gamifikasi online pertama di dunia.

Saat ini, PaGamO memfasilitasi pembelajaran bagi lebih dari 1,5 juta siswa, dimana mereka bermain dan berkompetisi bersama, dalam game online yang menggabungkan knowledge dan strategy. Contohnya permainan A Fantasy Island yang memungkinkan siswa untuk “membangun kerajaan pengetahuan mereka sendiri”. sedangkan game Boss Challenge adalah permainan multiplayer yang mengubah jawaban yang benar menjadi attack power.

Untuk PR-nya, siswa harus menyelesaikan misi dalam game untuk memenuhi persyaratan. Sistem gamifikasi PaGamO telah diadopsi oleh banyak lembaga pendidikan dan program corporate training dunia.

Temukan changemakers, industry titans, dan powerful individuals yang memberikan dampak positif pada Asia’s Most Influential list dari Tatler.