Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April menjadi momen tentang peran dan kekuatan perempuan di Indonesia. Perjuangan serta kegigihan Kartini untuk mewujudkan impiannya agar kaum perempuan Indonesia bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan setara dengan pria patut diapresiasi dan dijadikan teladan bagi kita semua. perjuangannya ini lah yang juga menginspirasi dan melahirkan perempuan-perempuan hebat masa kini yang turut memperjuangkan hal-hal penting lainnya. Berikut 5 sosok Kartini masa kini yang patut kita apresiasi. 

1/5 Farwiza Farhan, Chairperson Yayasan HAkA, aktivis lingkungan dan pegiat konservasi

Farwiza.pngFoto dok: Tatler Indonesia

Nama Farwiza Farhan sempat ramai dibicarakan pada tahun 2016 lalu saat Ia mendampingi aktor Hollywood, Leonardo DiCaprio, ketika mengunjungi Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh. Wanita yang lahir pada 1 Mei 1986 ini bukanlah penjaga hutan biasa. Ia adalah seorang aktivis lingkungan, pegiat konservasi dan penggagas organisasi nirlaba HAkA (Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh) dengan berbagai rekam jejak yang mengesankan.

Dalam aktivitasnya, HAkA memiliki visi untuk menciptakan Aceh yang sehat dan kuat, bagi dari segi sosial, finansial, maupun lingkungan. Untuk itu, Farwiza dan timnya mendorong peran serta masyarakat Aceh untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang meningkatkan fungsi lingkungan hidup bagi ekosistem di sekitarnya.

KEL bukanlah Kawasan biasa. Wilayah dengan bentang alam seluas 2,6 juta hektar yang terentang dari Aceh sampai Sumatra Utara ini sangatlah istimewa karena KEL merupakan tempat terakhir di dunia dimana badak, gajah, orang utan, dan harimau hidup bersama. Selain itu Kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional oleh pemerintah. 

Wanita yang akrab disapa wiza ini lahir dan dibesarkan di Banda Aceh. Menjalani masa SMA di lingkungan Madania Boarding School, Bogor, Wiza melanjutkan Pendidikan ke jenjang sarjana di University Sains Malaysia dan mengambil jurusan Biologi Kelautan. Langkah pendidikannya tidak berhenti sampai situ saja. Setelah lulus S1, Ia pun kembali meneruskan sekolah ke University of Queensland, Australia, di Jurusan Manajemen Lingkungan. Saat ini Ia pun sudah mendapat gelar PhD dari Radboud University Nijmegen dan University of Amsterdam.

Untuk pendekatan holistiknya dalam konservasi melalui advokasi, komunitas dan perlindungan, Farwiza menerima berbagai penghargaan seperti Future for Nature pada 2017 dan Whitley Award pada 2016.
 
2/5 Melati dan Isabel Wijsen, Founder Bye Bye Plastic Bag

MELMEL.pngFoto dok: Melati Wisjen's Instagram

Melihat maraknya pemakaian kantong plastik yang menyebabkan penumpukan limbah plastik di Pulau Bali tentu sangat mengkhawatirkan lingkungan. Hal ini membuat kakak beradik asal Bali, Melati dan Isabel Wijsen mendirikan organisasi bernama Bye-Bye Plastic Bags sejak tahun 2015.
 
Bye Bye Plastic Bags adalah sebuah organisasi yang berfokus pada pembatasan penggunaan kantong plastik di Bali. Berkat kepeduliannya terhadap lingkungan, kedua kakak beradik ini kerap diundang dalam banyak acara besar untuk menjadi pembicara. Salah satunya adalah menjadi pembicara di markas PBB di New York saat World Oceans Day di tahun 2017 silam. Kedua kakak beradik ini juga mendapat gelar Indonesia’s Most Inspiring Women versi Forbes pada tahun yang sama.
 
3/5 Leonika Sari, Founder Reblood
 

ELE.pngFoto dok: Leonika Sari's Instagram

Aplikasi ReBlood mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat namun dalam dunia kesehatan dan sosial, ReBlood merupakan satu aplikasi start-up yang sangat membantu. ReBlood adalah aplikasi penyedia informasi tempat dan event terdekat bagi kamu yang ingin memberikan donor darah yang didirikan oleh seorang wanita asal Surabaya, Leonika Sari.
 
Sejak SMA, wanita yang akrab disapa Leo ini bercita-bercita ingin menjadi dokter. Namun, ketertarikannya dalam bidang teknologi membuatnya menekuni bidang ini. Lulusan Sistem Informasi di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini mengatakan bahwa minatnya pada dunia teknologi makin kuat ketika dirinya mengikuti program MITx Global Entrepreneurship Bootcamp pada 2014. Dari situlah, Ia berinisiasi untuk mendirikan Reblood.
 
Leo mengungkapkan bahwa startup yang berdiri sejak 2015 tersebut bertujuan untuk membangun Indonesia yang lebih baik dengan menyelamatkan lebih banyak nyawa melalui donor darah. Di masa depan diharapkan tidak ada lagi orang-orang yang meninggal karena terlambatnya transfusi darah.
 
Saat ini Reblood bergerak di Jakarta dan Surabaya dan berperan untuk membantu Palang Merah Indonesia (PMI) untuk menggaet lebih banyak pendonor, terutama kalangan anak muda.
 
4/5 Sakdiyah Ma’ruf, Stand-up Comedian

Sakdiyah.jpgFoto dok: Sakdiyah Ma'ruf

Nama Sakdiyah Ma’ruf mulai dikenal masyarakat saat ia mengikuti acara Stand Up Comedian Indonesia (SUCI) Kompas TV jilid pertama pada tahun 2011 lalu. Kemunculannya saat itu dianggap unik karena ia merupakan komika pertama yang menggunakan hijab di Indonesia. Tidak hanya itu, wanita yang akrab disapa Diyah ini pun tak segan membawa tema-tema sensitif atau tabu seperti konservatisme Arab, diskriminasi terhadap perempuan dan ekstrimisme dalam agama.

Melalui aksi komedi tunggalnya, wanita keturunan Arab ini mendobrak stigma masyarakat yang lekat terhadap orang-orang keturunan Arab di Indonesia. Materi yang ia bawakan juga terinspirasi dari kisah hidupnya yang rumit. Dibesarkan di lingkungan komunitas Arab yang konservatif, tidak mudah baginya untuk tampil di muka umum sebagai komika. Dalam wawancaranya dengan The Sydney Morning Herald pada 2016 lalu, ia mengatakan bahwa semasa mudanya dihabiskan dirumah. Ia menjelaskan bahwa sehabis pulang sekolah, ia diharuskan untuk langsung pulang dan dilarang untuk bergabung dengan organisasi yang memiliki anggota lawan jenis.

Kepiawaiannya dalam berkomedi membuatnya mendapatkan berbagai penghargaan dunia. Pada 2015, Diyah sempat menerima penghargaan Vaclav Havel International Prize for Creative Dissent untuk kategori stand-up comedy di Oslo, Norwegia. Lalu pada November 2018, namanya pun masuk urutan ke-54 dari 100 daftar wanita inspiratif dunia versi BBC. Selain berprofesi menjadi komika, ibu dua anak ini juga bekerja sebagai seniman dan penerjemah.
 
5/5 Amanda Putri Witdarmono, Founder dan Executive Director We The Teachers (WTT) Indonesia

05110917-amanda-witdarmono_article_1333x2000.jpgFoto dok: Gen.T Asia

Dikenal sebagai founder dan executive director dari We The Teachers (WTT) Indonesia, sebuah organisasi yang bekerja untuk mendukung guru, Amanda Putri Witdarmono telah mencapai banyak hal untuk seseorang di usia yang begitu muda. Setelah lulus dari Boston University, ia pun melanjutkan pendidikannya di Teachers College, Universitas Columbia. WTT tumbuh dari penelitian pascasarjananya mengenai keadaan professional guru di Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 2014 lalu, WTT telah menjangkau lebih dari 5.000 pendidik di sekolah negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Dalam upaya kolaboratif dengan para pemimpin sekolah, kepala sekolah dan administrator, WTT merancang dan memberikan pengembangan profesional untuk guru, khususnya dalam pedagogi, melalui lokakarya, observasi kelas, dan analisis pelajaran. Melalui metode dan kegiatan ini, WTT berharap untuk memberdayakan para guru agar tetap relevan terhadap konteks sekolah dan perkembangan anak yang terus berubah. Tidak hanya berbicara di Forum Ekonomi Dunia, penelitiannya juga telah diakui oleh berbagai organisasi seperti IMF, UNESCO dan CIES (Comparative and International Education Society).