Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Tatler Indonesia menghadirkan delapan sosok anak muda berprestasi dan inspiratif dari berbagai bidang profesi yang berdedikasi untuk memajukan bangsa serta tak kenal lelah dalam menggerakkan perubahan positif. Siapa saja kah mereka? Berikut ulasannya.

1/8 Jonatan Christie, Badminton Athlete

jojo.jpegFoto dok: BadmintonPlanet.com

Nama Jonatan Christie pastinya sudah tidak asing lagi terdengar di kalangan para pecinta olahraga bulu tangkis Tanah Air. Lahir di Jakarta pada tahun 1997, atlet yang akrab disapa Jojo ini sudah mendalami dunia olahraga bulu tangkis sejak usia enam tahun. Pada 2008 silam, di usia yang masih 11 tahun, dirinya berhasil mendapatkan 7 trophy kemenangan pada kejuaraan tingkat DKI nasional dan internasional. Bahkan, ia pun sukses meraih medali emas pada ajang Olimpiade Pelajar Sekolah Dasar se-Asia Tenggara pada tahun yang sama. Sejumlah prestasi yang diraihnya juga tidak membuat dirinya terlena. Berkat kegigihan dan kedispilinan, dirinya pun menjadi salah satu atlet Indonesia yang patut diperhitungkan. Baru-baru ini, sang atlet kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam sejarah bulu tangkis Tanah Air dengan memenangkan piala Thomas Cup 2020 setelah 19 tahun lamanya Indonesia tidak memenangkan piala tersebut. Berlokasi di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Jojo berhasil mengalahkan lawannya yang berasal dari China, Li Shi Feng, dengan skor 21-14, 18-21 dan 21-14. Sebelumnya, sang atlet juga meraih medali emas di SEA Games 2017, Asian Games 2018, serta memegang dua gelar Selandia Baru dan Australia Open Super 300 yang diadakan oleh BWF World Tour.

2/8 Kania Maniasa, Executive Director at the Green School Bali Foundation

Kania.jpgFoto dok: Kania Maniasa

Kania Maniasa berusia 10 tahun saat ia dan keluarganya berpindah dari Pulau Dewata ke Amerika Serikat. Meski menjalani kehidupan baru dan menetap lama di Negeri Paman Sam, lulusan George Mason University School of Arts ini selalu merasa asing dan hal tersebut lantas memunculkan dilema dalam dirinya. Sebagai orang Bali dan orang Amerika, ia merasa ada kesenjangan antara dirinya dan asalnya sehingga ia termotivasi untuk menemukan kembali jati dirinya dan mengenal budaya asalnya. Pada tahun 2014, kesempatan pun datang dan kala itu ia diajak sang ibunda mengunjungi sekolah yang kelak menjadi tempat ia berdedikasi, yaitu Green School.

Berlokasi di antara Denpasar dan Ubud, tepatnya di Desa Sibang Kaja, Badung (sekitar 30 km dari Denpasar), Green School Bali merupakan sekolah K-12 yang berfokus pada pendidikan holistik dan keberlanjutan lingkungan. Tak hanya itu saja, sekolah ini pun memberikan kesempatan kepada anak lokal Bali untuk mengenyam edukasi yang unik dan berbeda dengan bertaraf internasional. Perpaduan elemen lokal dan internasional tersebut pun menumbuhkan rasa keterhubungan antara dirinya dan sekolah tersebut dan mendorongnya untuk membulatkan tekad untuk memberikan kesempatan lebih bagi anak-anak lokal di Bali untuk bergabung dan menemukan solusi bagi permasalahan lingkungan baik di Bali dan Indonesia.

Setelah lima tahun mengabdikan dirinya pada Green School Bali, Kania kini menjabat sebagai Executive Director Green School Bali Foundation dan memimpin semua upaya penggalangan dana untuk Program Beasiswa Lokal. Ia juga turut mendukung pengembangan serta pendidikan 32 pelajar lokal Bali yang saat ini belajar di sekolah tersebut. Dirinya pun terinspirasi untuk memberikan kesempatan yang sama, seperti yang ia miliki, kepada anak-anak di kampung halamannya tanpa harus berpindah-pindah ke berbagai belahan dunia.

Kini di usianya yang ke-28, Kania telah mengumpulkan lebih dari 1.500.000 dolar AS (Rp21,3 miliar) dalam waktu kurang dari 5 tahun guna memastikan bahwa pelajar di Bali mendapatkan kesempatan yang layak untuk menjadi penggerak perubahan di masa depan untuk Bali dan Indonesia yang lebih berkelanjutan.

Kania juga sangat percaya pada misi pendidikan. Melihat anak-anak didiknya berkembang serta berusaha untuk menjadi penggerak perubahan dalam komunitas mereka semakin memotivasinya untuk melanjutkan misinya.

3/8  Joshua Irwandi, Documentary Photographer

joshua.jpegFoto dok: generationt.asia

Joshua Irwandi merupakan seorang fotografer dokumenter lepas yang karyanya tidak hanya dikenal di Tanah Air tetapi juga di dunia. Selama berkarier, karya-karyanya telah ditampilkan di berbagai publikasi internasional, mulai dari National Geographic, CNN, TIME, The Times of London, dan The Guardian. Fotografer yang akrab disapa Irwandi ini juga merupakan sosok di balik sebuah foto bertajuk “The Human Cost of Covid-19” yang sempat ramai diperbincangkan pada bulan April tahun lalu di mana ia menampilkan jasad seorang terduga korban virus Corona yang dibungkus dengan plastik di sebuah rumah sakit di Indonesia.

Tahun ini, alumnus dari University of Exeter, dan London College of Communication ini telah dianugerahi hibah mendongeng National Geographic Society dan mendapatkan penghargaan Foto Pers Dunia 2021 di General News. Dirinya juga terpilih sebagai finalis The Pulitzer Prize dalam Fotografi Berita Terkini.

4/8 Oktoviano Gandhi, Co-Founder Alva Energi  

oktoviano.jpegFoto dok: generationt.asia

Bermula dari kekhawatirannya ketika melihat masyarakat Pulau Geranting, Riau, yang masih menggunakan petromaks yang berbahaya untuk penerangan saat berkunjung untuk proyek mahasiswa, Oktoviano menyadari bahwa masyarakat lokal di sana masih membutuhkan edukasi dalam penggunaan sumber daya energi untuk kebutuhan sehari-hari. Meski pulau tersebut sudah dibekali dengan dua sumber solar photovoltaic (PV) yang diberikan oleh pemerintah untuk sekolah lokal dan desalinasi air, masyarakat belum diberikan bekal pengetahuan yang memadai sehingga mesin tersebut pun rusak dan terbengkalai. Berangkat dari pengalaman tersebut, ia pun terinspirasi untuk membangun Alva Energi, sebuah perusahaan yang berfokus pada energi terbarukan dan menyalurkan keahlian mereka dalam energi surya, pembangunan jaringan listrik di daerah rural, serta mempromosikan pengembangan energi yang dapat diperbaharui di Indonesia dan Asia Tenggara.

Tidak hanya sukses dalam membangun kerjasama antar pemerintah, perusahaan swasta, dan lembaga nirlaba untuk mengimplementasikan  energi surya di seluruh kepulauan Indonesia, lelaki yang dinobatkan sebagai Global Goals List 2020 oleh Vanity Fair tersebut juga telah banyak menerbitkan hasil penelitiannya mengenai solar dan energi terbarukan di daerah rural—membawanya kepada penghargaan Springer Thesis Award untuk tesis PhDnya berkat penelitiannya yang mampu membawa kemajuan untuk teknologi energi terbarukan ke depannya. Tidak hanya itu, Gandhi juga menjadi representatif dari United Nations’ Sustainable Development Goal 7 mengenai energi bersih yang terjangkau yang ia lakukan melalui Alva Energi.

5/8 Jerry Winatam Head of Foundation, Bawah Anambas Foundation

jerry.jpegFoto dok: generationt.asia

Marcellinus Jerry Winata mendirikan organisasi nirlaba Yayasan Bawah Anambas pada tahun 2018 yang berfokus untuk memulihkan dan melestarikan keanekaragaman hayati dan lingkungan laut Kepulauan Riau di lepas pantai Sumatera. Tidak hanya itu, pria yang gemar mencicipi kuliner di berbagai tempat di Indonesia dan petualang sejati ini juga turut membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat. Selain itu, pria yang sebelumnya pernah bekerja di bidang ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan untuk PBB dan Bank Dunia ini juga aktif berpatisipasi dalam memerangi diskriminasi terhadap kaum minoritas. 

6/8 Debryna Dewi Lumanauw, Medical Doctor

Debry.jpegFoto dok: generationt.asia 

Bercita-cita menjadi seorang dokter menjadi impian sejak kecil Debryna Dewi Lumanauw. Berbekal ilmu kedokteran emergensi dari Harbor UCLA Medical Center, Amerika Serikat, ia menjadi perempuan pertama yang bergabung dalam jajaran dokter relawan di Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Sejak tahun 2018, Debryna, tercatat sebagai tenaga medis di Badan SAR Nasional dan aktif dalam berbagai kegiatan donasi serta penggalangan dana untuk LSM yang menangani kanker payudara, lupus, dan Covid-19.

7/8 Adi Reza Nugroho, Co-Founder & CEO, MYCL

Adi reza.jpegFoto dok: generationt.asia

Adi Reza Nugroho merupakan seorang pelopor dalam lanskap startup bioteknologi di Indonesia. Sebelum mendirikan Mycotech, Adi menjabat sebagai co-founder dan Creative Director dari Growbox, yaitu bisnis media tanam dari jamur yang sudah dikembangkan sejak tahun 2012. Setelah eksis di dunia packing media tanam jamur tersebut, Adi dan beberapa rekannya kemudian mulai meneliti media tanam jamur untuk diinovasikan menjadi material bangunan. Hingga lahirlah Mycotech.

Diluncurkan pada tahun 2016, Mycotech adalah sebuah bisnis yang memproduksi kulit berbasis jamur yang memiliki dua jenis produk yaitu Biobo dan Mylea. Biobo adalah decorative panel untuk elemen dinding interior, sedangkan Mylea adalah material kulit yang dijadikan jurnal, sepatu, dompet, tas, jam tangan dan produk modis lainnya. Sejak didirikan, startup ini telah banyak menorehkan prestasi seperti Juara 2 Wirausaha Muda Mandiri tahun 2015, Juara 2 Shell Live Wire World Innovation Awards 2016, Juara 3 GIST Demo Day GIST Initiative, dan Juara 2 Wienerberger CBME Innovation Day 2018. Pada tahun 2020, Mycotech juga mengumumkan rebrandingnya menjadi Mycotech Lab.

8/8 Leani Ratri Oktalia, Para badminton athlete

Leani.jpegFoto dok: Olympics.com

Nama Leani Ratri Oktila kerap diperbincangkan tahun ini usai dirinya berhasil memenangkan tiga medali pada ajang Paraolimpiade Tokyo 2020. Atas prestasinya tersebut, atlet kelahiran 6 Mei 1991 asal Bangkinag, Riau ini juga mendapatkan julukan "Ratu Para-badminton". Sepanjang kariernya, Ratri telah memenangkan berbagai kejuaraan seperti Medali emas ganda campuran, Incheon Asia Paragames 2014, Medali emas ganda putri, Jakarta Asian Paragames 2018, Medali emas tunggal putri, Singapura ASEAN Paragames 2015, Medali emas ganda putri, Kuala Lumpur 2017 dan masih banyak lagi. Saat ini, Ratri merupakan atlet para badminton yang menduduki predikat sebagai pemeringkat satu dunia di nomor tunggal putri SL4 dan ganda campuran SL3-SU5.