dd.pngFoto dok: Daniel Mananta Instagram

Siapa yang tak mengenal Daniel Mananta. Dikenal sebagai sosok yang bersahabat, rendah hati dan multitalenta, pria yang akrab disapa VJ Daniel ini memulai karirnya sebagai seorang pemandu program musik di MTV. Pembawaannya yang santai dan menyenangkan serta suaranya yang lantang lantas berhasil merebut hati para penonton dan menjadikannya salah satu top presenter di Tanah Air.

Sukses menjadi VJ, Daniel pun sempat berprofesi sebagai model dan bintang iklan. Pada tahun 2006, ia makin melebarkan sayapnya dan memulai debut aktingnya pada sebuah sinetron FTV berjudul “I Love You Boss.” Hal tersebut pun turut memberikan kesempatan baginya untuk bermain di sebuah film besutan Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (Mo Brothers) pada tahun 2009 bersama dengan Shareefa Danish, Julie Estelle, Arifin Putra, Sigi Wimala dan Ario Bayu.

Mencoba sejumlah bidang di industri hiburan nampaknya tak membuat pria kelahiran tahun 1981 ini lupa akan akarnya sebagai presenter. Pada tahun 2006 silam, ia pun dipercaya menjadi pemandu acara di program ajang pencarian bakat, Indonesian Idol musim ketiga dan menggantikan posisi Irgy Ahmad Fahrezi. Bukan sebuah kejanggalan jika acara tersebut menuai sambutan positif dari masyarakat. Pasalnya, kehadiran Daniel memberikan warna baru pada acara tersebut dan menjadikannya salah satu program yang paling ditunggu setiap minggunya.

Setelah 10 tahun menjadi wajah dari Indonesian Idol, kini ayah dari dua anak ini memutuskan untuk mengundurkan diri dari acara yang telah membesarkan namanya dan menyibukkan diri untuk mengembangkan platform Youtube-nya yang berfokus pada konten motivasional serta spiritualitas. Di tengah jadwalnya yang padat, ia pun juga menjalani sebuah bisnis clothing line, Damn! I Love Indonesia dan juga berprofesi sebagai produser film.

Pada edisi Tatler Exclusive kali ini, Tatler Indonesia mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Daniel Mananta melalui sebuah Instagram Live mengenai perjalanan kariernya di dunia perfilm-an sebagai aktor dan film produser, perjalanan spiritualnya serta berbagai pelajaran yang ia petik dari satu dekade memandu Indonesian Idol. Berikut petikannya.   

Hi Daniel. Apa kabar? Sedang sibuk apa saja belakangan ini?

Hi Tatler. Belakangan ini sedang sibuk membuat konten untuk program Youtube channel saya, Daniel Tetangga Kamu. Kita sangat bersyukur sekali karena kita baru saja melewati 500.000 subscribers. Jadi bagi para viewers yang sedang menonton dan subscribe ke Youtube channel Daniel Mananta Network, saya ingin mengucapkan terimakasih atas dukungannya. Selain itu ada beberapa brand ambassadorship yang saat ini sedang saya jalani. Salah satunya mengharuskan saya untuk lari marathon sehingga setiap pagi saya latihan lari secara intense. Kalau MC saat ini masih berjalan seperti biasanya.

Lalu, bagaimana kehidupan kamu setelah Indonesian Idol?

Sehari-harinya masih sama. Setelah saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Indonesian Idol tiba-tiba banyak orang yang memberikan saya predikat legend dan saya merasa sangat terapresiasi dan senang. Kalau dilihat kebelakang, saya dulu berprofesi sebagai MTV VJ, setelah itu host Indonesian Idol dan mungkin orang-orang juga sempat melihat saya sebagai Pak Ahok, dan sekarang kalau mereka melihat saya mungkin yang terbesit di benak mereka adalah Daniel Tetangga Aku. Which is more approachable and I like that. Saya merasa banyak sekali identitas yang sudah saya ambil dan itu menjadi bagian dari diri saya. So far, it’s been fun and amazing.

Saat ini kita tidak akan membicarakan mengapa kamu mengundurkan diri dari Indonesian Idol karena mungkin semua orang sudah mengetahui alasannya. Tetatpi, pelajaran berharga seperti apa yang kamu dapatkan selama menjadi host di Indonesian Idol?

Saya sempat membicarakan mengenai hal ini di salah satu video interview saya dengan Melanie Ricardo. Ketika saya berhasil melepaskan dan let go, ada hal baru yang menyenangkan terjadi dan datang kepada saya. Ibaratnya, ketika kamu membersihkan sebuah lemari dan barang-barangnya kamu berikan ke orang lain, ada satu momen di mana kamu akan mengisinya lagi dengan barang-barang baru. Jadi, perasaan saya hampir mirip seperti perumpamaan tadi.

Pelajaran paling berharga yang saya dapatkan adalah, ketika kita melepaskan sesuatu, akan ada berbagai hal baru yang terjadi di dalam hidup kita. Keluar dari zona nyaman memang sulit, tetapi saya sangat antusias dengan berbagai hal yang akan datang di masa depan. Jujur saat ini saya juga belum mengetahui hal baru seperti apa, tetapi saya yakin bahwa hal tersebut akan datang.

Berbicara mengenai perjalanan karir kamu di masa lalu, apa yang membuat kamu tertarik untuk menjadi seorang VJ?

Dari dulu saya selalu menyadari bahwa saya sangat tertarik dengan dunia public speaking. Ketika pertama kali menjadi VJ, saya merasa ada suatu puzzle di dalam hidup saya yang selama ini hilang dan akhirnya ditemukan. Ketika saya di atas panggung dan mendapatkan energi dari orang-orang yang menonton, saya merasa sangat tenang dan relax.

Ada momen dimana sebelum naik ke atas panggung saya merasa deg-degan, tetapi ketika sudah turun panggung saya merasa lebih berenergi dan hal tersebut adalah arti sebenarnya dari kata resting. Kalau resting itu seperti kita tidur dan ketika bangun kita akan merasa lebih berenergi. Saat saya diatas panggung, saya merasa mendapatkan energi ketika saya bekerja. So, am I really working or am I resting on stage? I feel like, I am resting on stage and I can feel that the stage is made for me. That’s my passion and my calling. Sebelumnya ada banyak pekerjaan yang saya jalankan, tetapi ketika saya menjadi seorang VJ, saya sangat menikmatinya sekali.

Apakah kamu masih ingat film pertama kamu, Rumah Dara di tahun 2009? Momen apa yang sampai sekarang masih kamu ingat dan bagaimana kamu mendapatkan peran sebagai Jimmy?

Awal mulanya waktu bertemu dengan Arifin Putra waktu casting untuk MTV VJ dan dia duduk di sebelah saya. Pada waktu itu, Arifin sudah menjadi seorang aktor dan ada satu momen di mana saya mengatakan kepada dia jika dia membutuhkan peran pembantu, saya bersedia untuk ikut. Setelah itu ternyata ditawarin main film bareng sama Arifin dan saya sangat nyaman sekali ada di satu produksi dengan dia. Sepanjang syuting film itu yang saya ingat adalah momen kebersamaan dan berbagai lelucon yang saya lemparkan. Jadi saya merasa sangat bersyukur karena di keadaan apapun, saya bisa membawa sukacita kepada orang-orang di sekitar saya. I think that’s the most memorable moment I’ve had from the film.

Di tahun 2014, kamu semakin melebarkan sayap di dunia perfilman Indonesia dengan menjadi eksekutif produser untuk sebuah film berjudul “Killers.” Setelah sukses di tayangkan di berbagai festival internasional, film ini juga menjadi sebuah permulaan bagi kamu untuk memproduseri film selanjutnya “Susi Susanti: Love All.” Boleh diceritakan sedikit tantangan apa yang kamu hadapi sebagai seorang produser muda pada saat itu?

Film pertama “Killers” adalah film yang membuka pemahaman saya terhadap passion saya di dunia film. To be honest, waktu itu saya masih ingin terlihat keren dan saya masih membutuhkan pengakuan. We all grow and I am also very grateful bahwa waktu itu saya bisa menjadi executive producer bersama dengan Gareth Evans dan Mo Brothers. Namun, di saat yang bersamaan saya merasa bahwa tujuan saya salah. Secara kualitas menurut saya memang film “Killers” patut diacungi jempol, tetapi purpose saya salah pada saat itu.

Setelah "Susi Susanti: Love All," apakah kamu ada rencana untuk mengerjakan projek film lagi?

Pastinya ada. Di tengah pandemi ini ada beberapa proyek yang tertunda dan ada beberapa ide yang dapat kita lakukan. Namun, saat ini masih hanya sebatas ide saja dan saya belum sempat pitching ke investor juga. There are so many uncertainties dan para investors saat ini tidak seagresif dulu seperti sebelum pandemi. We’ll see.

Ngomong-ngomong tentang Youtube. Bagaimana kamu menggunakan platform kamu sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikkan dan kasih sayang Tuhan? 

Di jaman pandemi ini ada banyak sekali orang yang memiliki kekhawatiran sehingga kehilangan semangat dan terkena panick attack karena adanya ketidakpastian. Mereka juga todak tahu kapan semua ini akan berakhir. Banyak dari teman-teman saya juga battling dengan mental illness dan akhirnya saya kepikiran untuk membuat sebuah acara di mana kita dapat berbicara mengenai ketidakpastian dalam hidup. Maka hadirlah Daniel Tetangga Kamu. Dari semua orang yang pernah saya interview, topik spiritual kerap muncul dan diperbincangkan. Hal tersebut membuat saya tersadar bahwa ada banyak ketidakpastian di dunia ini dan satu-satunya yang pasti adalah kasih sayang Tuhan kepada kita. Jadi, saya berpikir bahwa saya bisa mempromosikan kasih sayang Tuhan tersebut melalui perjalanan hidup orang-orang yang saya interview. I am alo grateful that this platform can give a lot of hope dan semangat kepada orang-orang yang menonton.

Untuk menutup wawancara hari ini, boleh di share sedikit mengenai perjalanan spiritual kamu?

Spiritual journey pastinya sampai saat ini belum selesai dan tidak akan pernah selesai. Saat ini saya masih melalui berbagai hal. Tetapi, ada salah satu penulis, Brene Brown berjudul “The Gift of Imperfection” yang menuliskan di bukunya bahwa ketika seseorang sedang terjatuh, di saat yang sama lahirlah spiritual awakening di dalam hidup mereka. Saya sangat percaya dengan hal tersebut, karena ketika semua yang kita miliki di dunia ini dan diri kita sendiri tidak dapat menyelamatkan hidup kita, where do we go? So, that’s spiritual awakening.

Akhirnya sedikit demi sedikit saya mulai mencari Tuhan dan hal tersebut terjadi di tahun 2012, ketika saya kehilangan suara saya karena tumor jinak yang tumbuh di pita suara. Pada saat itu, saya tidak hanya kehilangan suara saja, tetapi juga kehilangan identitas saya sebagai presenter. Ketika saya sakit ada yang mendoakan saya dan saya mengalami penyembuhan spiritual. Hal tersebut memberikan saya kedamaian yang luar biasa dan sedikit demi sedikit saya pun pulih. Dari situlah perjalanan spiritual saya di mulai.

Untuk menonton lebih lanjut mengenai wawancara kami dengan Daniel Mananta, kunjungi IG Live kami berikut ini: