elisabeth kurniawaaaannn.jpgPhoto dok: Elisabeth Kurniawan

Saat ini dunia startup digital menjadi bisnis yang cukup digemari. Tidak hanya kuliner, kesehatan, dan teknologi, fashion juga merupakan salah satu yang paling digemari di kalangan anak muda. Berbelanja online dewasa ini pun nampaknya sudah tidak lagi menjadi gaya hidup tetapi telah menjadi kebiasaan yang cukup melekat dengan masyarakat Indonesia, terutama kaum milenial wanita.

Tidak dapat dipungkiri lagi, sebagian besar waktu yang mereka miliki saat ini telah dihabiskan untuk berburu produk-produk berkualitas terutama dalam kategori fesyen dan kecantikan. Walaupun sudah banyak brand e-commerce yang menawarkan berbagai produk tersebut, beberapa konsumen justru sepertinya tidak memiliki cukup informasi terkait fungsi hingga cara menggunakan produk yang diincar. 

Melihat peluang tersebut, Elisabeth Kurniawan, mendirikan The Shonet (singkatan dari Shopping Network) sebagai platform social network yang mengutamakan pemasaran konten, influencer, dan editorial fesyen, kecantikkan serta gaya hidup untuk penjualan produk. 

Pada sebuah wawancara ekslusif di Jakarta Pusat pada bulan lalu, wanita yang pernah bekerja sebagai Editor in Chief IDN Media (POPBELA.com) ini mengatakan bahwa The Shonet sejatinya bertujuan membantu para wanita milenial mengambil keputusan sebelum berbelanja. Ditambah lagi dengan konsepnya yang unik yaitu memanfaatkan konsep social network yang menghubungkan pembaca dengan brand, terutama brand lokal.

Tidak hanya sekedar menyukai fashion, Elisabeth yang menyelesaikan pendidikkannya di Esmod dan Fashion Institute of Design & Merchandising di L.A. ini sangat memahami betul skena industri mode di Indonesia, terutama di kalangan anak muda.

Sebelum mendirikan The Shonet, Elisabeth memiliki segudang pengalaman dalam dunia industri fashion salah satunya saat ia bekerja sebagai assistant buyer di sebuah label ternama dunia Saint Laurent di Los Angeles dan New York dan sebagai Boutique VIP relations & Jewelry Appraisals valuations di Van Cleef & Arpels di New York, Amerika Serikat.

Meskipun sudah mempunyai pekerjaan yang mapan di Negeri Paman Sam, ia pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia pada tahun 2014 dan sempat bergabung dengan perusahaan retail serta brand perhiasan dan jam mewah Prancis, Cartier, sebagai Product Executive hingga akhirnya menjabat sebagai  CEO di The Shonet

Ia mengatakan bahwa The Shonet terinspirasi dari kesadarannya akan kebutuhan sebuah kredibilitas dalam membangun platform online terutama dalam bidang mode, kecantikkan dan gaya hidup.

"Di Indonesia terdapat banyak brand lokal berkualitas namun masih memiliki kesulitan untuk menjangkau pelanggan lebih dalam. Berkaca dari pengalaman saya membangun POPBELA.com, saya menyadari bahwa ada banyak hal yang dapat dilakukan dengan teknologi.”

Oleh karena itu, Elisabeth mengatakan bahwa The Shonet dapat menjadi penghubung antara brand dengan pelanggan melalui beragam cerita dan artikel yang ditulis oleh industry experts seperti pakar mode, stylist, makeup artist dan fashion influencers (Insiders Network) yang benar-benar memahami bidang tersebut sehingga pelanggan bisa dengan mudahnya mendapatkan informasi yang berkualitas.

“Dalam beberapa tahun belakangan ini, influencers sudah menjadi tren. Mereka pun juga sudah menjadi media bagi para pencinta mode dan kecantikkan di Indonesia. Tidak hanya itu saja, ketenaran fashion influencers juga mengalahi industry experts dan itu yang membuat market Indonesia sangat menarik,” imbuhnya.

Didirikan pada tahun 2017, The Shonet menargetkan wanita dan kaum milenial dengan jenjang usia 18 hingga 35 tahun. Demi menawarkan produk yang berkualitas, platform social network ini telah bekerjasama dengan lebih dari 100 brand premium dari berbagai kategori seperti Zara, Mango dan masih banyak lagi.

Saat ini The Shonet sudah memiliki 2,7 juta MAU (Monthly Active Users) dan 5,5 juta visitors per bulan. Selain itu, The Shonet juga memiliki lebih dari 2000 Insiders Network dalam industri mode, kecantikkan dan gaya hidup. Untuk kedepannya, The Shonet juga akan memberikan kesempatan kepada users-nya untuk dapat berkontribusi dalam membuat konten dengan mengimplementasikan sistem tiering.

Tidak hanya itu The Shonet pun berhasil Menerima Pendanaan tahap awal dari Maloekoe Ventures pada 5 Maret 2019 lalu. Pendanaan yang tidak disebutkan nominalnya itu diberikan untuk membangun The Shonet dalam bentuk infrastruktur, sumber daya manusia, dan kebutuhan pemasaran.

Berkat hal itu Elisabeth Menargetkan dalam lima tahun kedepan The Shonet dapat menjadi tujuan social network pertama di Indonesia yang mampu memberikan dampak positif kepada wanita dan kaum milenial. 

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai The Shonet, kunjungi official website mereka. 

Tags: Startup Company, CEO The Shonet, Elisabeth Kurniawan, Startup DIgital, Platform Social Network, The Shonet