Berkaca dari banyaknya permasalahan sosial dan lingkungan yang ada di masyarakat membuat kebanyakan orang tergerak hatinya untuk melakukan perubahan. Seperti beberapa aktivis perempuan Indonesia di bawah ini yang berjuang untuk kepentingan masyarakat sekitarnya. Bahkan mereka memulai perjuangan mereka dari umur yang tergolong masih muda. Penasaran siapa saja aktivis wanita Indonesia yang masih berumur di bawah 25 tahun? Yuk cek disini selengkapnya

Baca juga: 5 Indonesian Philantropist That Are Changing The World

Faye Simanjuntak

Terinspirasi dari sosok kuat Raden Ajeng Kartini, membuat remaja bernama Faye Simanjuntak ini tergerak hatinya untuk berjuang memberantas prostitusi dan perdagangan anak. Berbekal ilmu kepedulian terhadap sesama dari sang ibu yang kerap membawanya ke panti asuhan saat ia masih kecil, dara cantik ini berhasil mendirikan LSM miliknya yang bernama Rumah Faye pada umur 11 tahun. Rumah Faye didirikan olehnya untuk memberikan perlindungan dan pemulihan bagi anak-anak korban perdagangan dan prostitusi.Berkat usaha dan kepeduliannya, Faye berhasil menjadi nominasi dari The International Children’s Peace Prize 2017 oleh UNICEF.

Tsamara Amany

Wanita cantik yang satu ini bukan hanya sekedar aktivis sosial namun juga salah satu anak muda yang berkecimpung didunia politik. Tergabung dalam Partai Solidaritas Indonesia sejak dirinya masih berstatus mahasiswa, wanita berumur 22 tahun ini kerap menyuarakan pendapatnya terhadap keadaan politik Indonesia dan menentang tegas partai politik yang korup. Sekarang menjelang pemilu 2019, Tsamara dipercaya untuk menjadi juru bicara dari pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 1, Jokowi dan Ma’aruf Amin. Tidak hanya itu, ternyata Tsmara juga seorang penulis dan sudah menerbitkan buku yang berjudul Curhat Perempuan.

Melati dan Isabel Wijsen

Melihat maraknya pemakaian kantong plastik yang menyebabkan penumpukan limbah plastik di Pulau Bali tentu sangat mengkhawatirkan lingkungan. Hal ini membuat kakak beradik asal Bali, Melati (17 tahun) dan Isabel (15 tahun) Wijsen membuat organisasi yang bernama Bye Bye Plastic Bags sejak tahun 2015. Bye Bye Plastic Bags adalah sebuah organisasi yang berfokus pada pembatasan penggunaan kantong plastik di Bali. Berkat kepeduliannya terhadap lingkungan, kedua kakak beradik ini kerap diundang dalam banyak acara besar untuk menjadi pembicara. Salah satunya adalah menjadi pembicara di markas PBB di New York saat World Oceans Day di tahun 2017.

Ria, Suci dan Holida

Ketiga anak muda Ria (16 tahun), Suci (18 tahun) dan Holida (18 tahun) tampaknya seperti remaja wanita pada umumnya. Namun jika kebanyakan remaja seumurannya sedang sibuk bermain, ketiga remaja wanita ini sibuk berjuang untuk menghentikan pernikahan di bawah umur lewat organisasi Girls Not Bride. Berkaca dari maraknya pernikahan di bawah umur di tempat tinggal mereka, ketiga wanita ini bertekad untuk menghentikan pernikahan oleh anak di bawah umur 18 tahun. Menurut mereka, perempuan di bawah umur belum matang dalam pikiran dan tidak diperkenankan untuk dikawinkan. Mereka ingin semua perempuan dapat melakukan apa yang mereka mau dan menentukan masa depan mereka sendiri.

Baca juga: Dari Aktivis HAM Hingga Sastrawan, Ini 4 Orang Indonesia Yang Pernah Dinominasikan Menerima Nobel Prize