Nama Eliza Vitri Handayani mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi tidak dalam dunia seni, aktivisme dan literasi. Penulis novel yang merangkap sebagai aktivis dan seniman ini juga telah meraih pencapaiannya dalam tingkat lokal maupun internasional. Tentunya untuk dapat meraih semua pencapaian itu, Eliza menempuh perjalanan yang berliku. Dari yang tidak direstui oleh ayahnya, namun Eliza berhasil membuktikan bahwa masa depannya bisa terjamin dengan segala usaha yang dilakukannya sebagai seorang penulis. Yuk kita ikuti kisah perjalanan Eliza Vitri Handayani.

Eliza, Perempuan Penulis

eliza vitri handayani.jpg

Eliza Vitri Handayani merupakan seorang penulis perempuan yang menulis novel fiksi dan nonfiksi. Dirinya juga menulis dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dikutip dari elizavitri.com, Eliza menceritakan bahwa dirinya sudah mulai menulis sejak kecil. Sejak berumur 8 tahun, Eliza sering memenuhi bukunya dengan tulisan mengenai mimpinya pada malam hari. Dan setelah beranjak menjadi seorang remaja, Eliza mulai menulis cerita fiksi yang lebih panjang, dan saat itulah dirinya baru mulai untuk memamerkan karyanya kepada orang lain.

 

Seorang Seniman

drg blog supreme.jpgfoto: Dok. drgblogsupreme

Sejak berumur 14 tahun Eliza meninggalkan rumah dan tinggal di asrama SMA Taruna Nusantara. Saat itu ketika duduk dibangku SMA, Eliza juga turut untuk ikut bergabung dalam klub teater yang ada di sekolahnya. Lalu dirinya mendapat kesempatan untuk memimpin sebuah drama pendek dengan cerita yang diangkat melalui tulisannya sendiri. Eliza pernah dicegah oleh ayahnya dalam menulis dan menyebarkan karyanya, karena keprihatinannya terhadap masa depan dari putrinya. Namun, di tahun 1999 Eliza berhasil memenangkan kompetisi menulis naskah yang diselenggarakan oleh The National Film Center. Kemudian naskah tersebut dikembangkannya menjadi sebuah novel yang diterbitkan pada tahun 2013 dan kemudian menjadi novel terlaris pada saat itu.

 

Pernah Menjauhkan Diri Dari Buku

the jakarta post.jpgfoto: Dok. thejakartapost

Tidak banyak orang yang tahu bahwa novel yang sangat laris itu ternyata disensor oleh editor dan penerbit. Karena mereka tidak ingin menunjukkan kepada para remaja tentang berpegangan tangan dan berciuman. Mereka merasa tindakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Islam konservatif. Saat itulah Eliza merasa malu pada diri sendiri karena dirinya tidak bisa mempertahankan karyanya sendiri. Oleh karena itu, untuk beberapan alasan, Eliza memutuskan untuk menjauhkan diri dari buku yang merupakan dunianya. Tidak berhenti sampai disitu karirnya, tepat sebelum lulus SMA, Eliza menerima beasiswa penuh sebagai Freeman Asian Scholar at Wesleyan University, Connecticut, USA. Ketika berada di Amerika, Eliza mulai belajar lebih giat lagi dengan membaca banyak buku dan kemudian dirinya berlatih untuk menulis dalam bahasa Inggris. Dan sekembalinya ke Indonesia, Eliza bekerja sebagai seorang editor pada sebuah perusahaan penerbit di Indonesia.

Eliza Juga Merangkap Sebagai Seorang Perancang Busana

Melalui akun instagram miliknya (@elizavitri), Eliza memposting sebuah postingan yaitu foto dirinya ketika sedang menghadiri malam pembukaan Fashion ForWords. Eliza menceritakan bahwa dirinya mengenakan dress hasil karyanya bersama Ayudilamar. Dalam dress tersebut terlihat bahwa Eliza membubuhinya dengan nukilan-nukilan dari buku-buku favorit yang pernah diprotess atau dilarang untuk diterbitkan oleh para editor. Eliza juga melontarkan opininya dalam postingan tersebut bahwa untuk bisa tetap jujur, bebas, dan aman dijaman sekarang tidaklah mudah. Karena ketakutan dan kepatuhan dalam masayarakat disertai dengan ancaman pasal penodaan, bullying, kekerasan, dan pasal ITE.

Pencapaian Tertinggi Selama Berkarya

twitter.jpgfoto: Dok. twitter

Dikutip dari salah satu media, Eliza mengatakan bahwa semua pencapaian yang telah diraih terasa signifikan. Mulai dari mendapatkan penerbit Australia untuk novelnya From Now On Everything Will Be Different. Tidak hanya itu saja, Eliza mendapat kesempatan untuk berjejaring dan diundang ke berbagai festival baik dalam tingkat nasional maupun internasional. Ia juga berkesempatan untuk mengadakan ajang seni berskala besar untuk pertama kalinya yaitu House of the Unsilenced yang menembus batas kelas, usia, agama, gender, dan asal-usul, tuturnya kepada media yang sama.

 

baca juga : Motoran, Startup Jual Beli Motor Bekas Yang Didirikan Mantan Co-Head GO-TIX 

Tags: Society, Penulis, Eliza Vitri Handayani