QPg54qKyWp.jpg

Antara Foto/Puspa Perwitasari

Bacharuddin Jusuf Habibie telah tutup usia. Presiden ketiga Republik Indonesia yang terkenal ramah ini menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu, 11 September 2019, pukul 18.05 WIB di RSPAD, Jakarta. Sepanjang kehidupannya, Habibie tidak pernah berhenti berkarya, terutama dalam dunia penerbangan. Ia merupakan tokoh kunci dalam masa peralihan ke demokrasi karena ketika menjadi presiden, ialah yang melaksanakan proses demokratisasi negara ini lewat berbagai kebijakannya. Berikut lima fakta menarik tentang sosok jenius yang kerap disapa Eyang Habibie oleh orang-orang terdekatnya.

Punya rasa ingin tahu yang besar sejak kecil

Rasa ingin tahu yang besar ternyata sudah ada dalam dirinya sejak Habibie masih kecil. Seperti dikisahkan dalam buku biografi tentang dirinya yang berjudul “Rudy: Kisah Muda Sang Visioner” yang ditulis oleh Gina S. Noer, Rudy (nama panggilan Habibie) kecil merupakan anak yang penuh dengan rasa penasaran dan ingin tahu. Ia kerap bertanya kepada ayahnya, Alwi Abdul Djalil Habibie, tentang hal-hal yang ia amati. Alhasil, rasa ingin tahu tersebut berhasil membawa Habibie menjadi sosok jenius dan sosok yang dikagumi banyak orang.

Memiliki rekam jejak akademik yang cemerlang

Semua karya dan pemikiran Habibie yang dikagumi banyak orang tentu tidak terlepas dari rekam jejak pendidikannya yang cemerlang. Habibie pernah menimba ilmu di Institut Teknologi Bandung selama beberapa bulan sebelum memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen University (RWTH Aachen), Jerman. Di sana, Habibie mengambil jurusan teknik penerbangan dengan peminatan konstruksi pesawat terbang dan lulus dengan dua gelar sekaligus, yaitu Diplom-Ingenieur pada tahun 1960 dan Doktor-Ingenieur pada tahun 1965 dengan predikat summa cum laude.

Tidak tertarik dengan politik sebelumnya 

Habibie tidak pernah menyangka bahwa suatu saat akan menjadi orang nomor satu di Indonesia. Diketahui dari sebuah wawancara, ayah dari dua orang putra ini mengaku tidak pernah tertarik pada dunia politik. Namun apa daya, nasib berkata lain. Kemampuan inteleknya semasa belajar dan kerja di Jerman berhasil sampai ke telinga presiden pada saat itu, Soeharto, yang seketika meminta Habibie untuk kembali ke Indonesia. Ketika ia pulang, Presiden Soeharto meminta Habibie untuk memimpin perkembangan industri penerbangan Indonesia.

Berhasil menjadi presiden RI

Dengan kecerdasannya, tidak heran bahwa B.J. Habibie memiliki karir yang mentereng di dunia politik. Terlebih saat dirinya diberi mandat oleh Presiden Soeharto untuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi di tahun 1978 dan kemudian diangkat menjadi wakil presiden pada tahun 1998. Namun, prestasi terbesarnya di bidang politik adalah saat ia resmi ditunjuk untuk menggantikan Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998.

Dijuluki "Mr. Crack"

Mungkin banyak yang belum tahu, selain kerap dipanggil Rudy atau Eyang, Habibie juga memiliki julukan lain, yaitu Mr. Crack. Nama ini diambil dari sebuah teori yang ditemukannya,“crack propragation theory” atau teori perambatan keretakan, yang menjelaskan tentang titik awal keretakan sayap dan badan pesawat. Hingga saat ini, teori ini sangat berpengaruh dalam proses pembuatan pesawat untuk meminimalkan risiko kecelakaan pesawat terbang.

Selamat jalan, Pak Habibie. Terbanglah tinggi ke angkasa...

Baca juga: Dua Remaja Putri Indonesia yang Menyuarakan Antikekerasan Terhadap Anak di PBB

Tags: Habibie, B.J. Habibie, Habibie Meninggal