Screen Shot 2019-05-13 at 7.26.37 PM.pngPhoto courtesy of: VOA 

Kabar membahagiakan datang dari generasi muda Indonesia dari Papua. Berawal dari program pemerintah Papua yang mengirim sekitar 30 remaja Papua untuk belajar ke negara bagian Oregon dengan menggunakan Dana Otonomi Khusus, kini tujuh putra-putri terbaik Papua yang merupakan angkatan pertama dari program ini telah berhasil menyelesaikan pendidikannya dari Universitas Corban, Oregon, Amerika.

Gubernur Papua Lukas Enembe bersama istri datang langsung untuk menyaksikan acara kelulusan tersebut, lalu dilanjutkan dengan upacara tradisional bakar batu sebagai ungkapan rasa syukur. Lukas juga mengungkapkan rasa bangganya terhadap para generasi penerus bangsa yang berasal dari provinsinya tersebut.

97F76210-7F17-47C2-88D3-CBF61FB502EF_w650_r0_s.jpgPhoto courtesy of VOA

Sherina Fernanda Msen, salah satu dari putri terbaik Papua berhasil lulus dengan predikat magna cum
laude. Lulusan Universitas Corban jurusan akuntansi, kepemimpinan dan manajemen ini bahkan dianugerahi “Top Accounting Student” oleh Oregon Society of Certified Public Accountants (OSCPA).

Sherina mengakui bahwa Ia tidak menyangka akan lulus dengan predikat yang membanggakan tersebut. Dengan bekal passion terhadap matematika dan problem solving, serta pemahaman bahwa jurusan yang ia pilih mempunyai peluang besar dalam karir, Ia mampu menyelesaikan pendidikannya dengan hasil yang sangat memuaskan.

Untuk mewujudkan rasa syukur, Gubernur Lukas Enembe, para wisudawan/ti, serta seluruh mahasiswa lainnya mengadakan upacara tradisional Bakar Batu.

“Kami buat bakar batu yang cukup bagus di dekat asrama mahasiswa di pinggiran kampus Oregon itu. Kami undang seluruh mahasiswa dan warga di sekitarnya. Dalam upacara tradisional seperti itu dosen- dosen mereka dan juga saya sendiri memberi pesan dan nasehat untuk kehidupan mereka kelak. Kita sambut mereka, bangga dan beri penghargaan buat mereka. Benar-benar suasana kekeluargaan yang mengharukan,” kata Lukas.

Gubernur Lukas Enembe merasa perlu untuk memberi kesempatan anak-anak Papua untuk belajar, baik
di dalam maupun di luar negeri. Ia ingin anak-anak Papua memiliki kesempatan belajar yang sama dengan anak-anak dari pulau lain.

“Mengapa di Jawa bisa ada banyak anak dikirim ke luar negeri jadi dokter dan sebagainya, tapi Papua tidak? Itulah sebabnya saya ingin mereka belajar ke luar negeri,” papar beliau kepada VOA. 

Ia juga menambahkan, sejak program pendidikan ini dimulai pada tahun 2014, sekitar 500 anak Papua belajar di berbagai Negara, 360 anak diantaranya belajar di Amerika.

Lukas menjelaskan lebih lanjut bahwa anak-anak ini nantinya tidak diwajibkan untuk kembali mengabdi di Papua setelah mereka lulus. Mereka tentu saja bisa kembali untuk membangun Papua tanpa keharusan dan atas kemauan mereka sendiri.

Beliau berkata selama mereka tetap menjadi warga Negara Indonesia, mereka diperbolehkan untuk mengabdi dimana saja dan bahkan tidak diharuskan untuk mengembalikan uang kuliah jika memang para lulusan tersebut memutuskan untuk tidak kembali ke tanah air.

Yang menarik, walaupun mendapat tawaran melanjutkan pendidikan magister dari tiga kampus bergengsi lain di Amerika, Sherina Fernanda justru ingin pulang kampung.

“Saya memang memimpikan pulang kembali dan bekerja di Papua. Saya asli dari Biak, tetapi tinggal di Jayapura. Saya ingin pulang," ucap Sherina.

Berbeda dari kebanyakan mahasiswa lainnya, selama kuliah Ia juga bekerja sambilan dengan memberi les pribadi kepada mahasiswa lainnya yang membutuhkan tambahan bimbingan. Namun, Ia pun menyediakan hari Sabtu untuk mendekatkan diri pada Tuhan, untuk menjaga keseimbangan hidupnya.

Putra-putri Papua ini pantas menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Sebagai generasi yang tinggal di daerah timur Indonesia, mereka berhasil menuntut ilmu ke negeri lain dan membanggakan bangsanya.

Baca juga: 6 Fakta Menarik Alexandria Ocasio Cortez Yang Berhasil Terpilih Menjadi Anggota Kongres Perempuan Termuda Di Amerika