Hingga kini banyak orang masih memaknai berpergian sebagai bentuk rekreasi belaka. Bukan lagi menjadi keinginan namun berpergian sudah menjadi suatu kebutuhan bagi banyak orang. Seakan menjauh dari kepenatan kehidupan sehari-hari dan keramaian kota metropolitan. Kebutuhan untuk berbagi kesenangan dalam bentuk postingan feed instagram yang kekinian, membuat keinginan untuk berpergian dalam format pelesiran menjadi sumber kebahagian bagi orang-orang masa kini, apalagi jika ditambah dengan respon pengguna instagram dengan memberikan likes dan komen. Kini cara seseorang dalam melakukan perjalanan menjadi beragam, ada yang berkunjung ke Negara impianya namun ketika kembali rutinitas seakan lebih melelahkan. Jika begitu, mulailah melakukan perjalanan dengan pendekatan yang berbeda seperti slow travel. Berikut fakta menarik mengenai slow travel bagi kamu yang belum tau dan berencana untuk mengubah format pelesiranmu. Yuk cek disini.

Apa Itu Slow Travel?

man-1246233_960_720.jpg

Slow travel adalah sebuah pergerakan yang muncul sebagai solusi mengatasi kelelahan dan keriuhan ketika menjalani perjalanan seperti turis pada umumnya. Untuk lebih memahami slow travel, coba bayangkan dirimu ada disebuah desa kecil dengan suasana dan pemandangan yang indah, lalu pagi-pagi sekali kamu bangun untuk berbelanja ke pasar dan memasak hidangan khas lokal, siang harinya kamu berkumpul bersama warga setempat untuk sekedar bebincang dan menikmati makan siangmu,  ketika sore hari tiba kamu memutuskan untuk berjalan menyusuri desa kecil tersebut menikmati suasana dan keindahan alam yang menyejukan ditemani secangkir kopi ditanganmu. Jika kamu merasa bergairah dengan membaca kisah ini maka kamu harus mencoba merubah format pelesiranmu dan menemukan esensi baru dalam perjalananmu.

Sebagai Perpanjangan Dari Slow Food

mountain-984083_960_720.jpg

Tidak terlalu memacu pada rencana perjalanan dan lebih berfokus untuk menikmati suasana disekeliling dengan nyaman, slow travel membuat anda dapat mengeksplor, budaya, kebiasaan, dan nilai yang dianut oleh wilayah setempat dengan ritme pelan namun penuh kesan dan bermakna. Tapi taukah kamu bawa slow travel adalah perpanjangan dari slow food yang dimulai di era 80-an dalam bentuk protes terhadap pembukaan restoran Mcdonald’s di Roma. Slow food sendiri bertujuan untuk melestarikan kuliner setempat, hidangan komunal, metode tradisional dalam mempersiapkan hidangan, dan pertanian lokal.

Slow Travel Sebagai Sebuah Pola Pikir Baru

people-2591874_960_720.jpg

Slow travel hadir untuk memberikan pola pikir bahwa lebih penting untuk mengenal dengan baik suatu daerah atau kota kecil, ketimbang menghabiskan waktu untuk berpindah dari satu area ke area lainya, tanpa benar-benar menikmati perjalanan yang sesungguhnya. Daripada mengejar target hanya untuk sebuah tanda “I was there," lebih baik jika kamu mulai mengubah pola pikirmu dan mencoba melakukan slow travel agar bisa mendapatkan esensi berbeda dalam perjalananmu kali ini.

Slow Travel, Menghemat Biaya

sunrise-1014713_960_720.jpg

Dengan melakukan slow travel, maka kamu tidak perlu kuatir dengan budget yang akan kamu keluarkan. Dengan menginap disebuah hostel atau rumah penduduk selama seminggu tentunya akan lebih hemat, atau kamu dapat memilih tinggal di apartemen kecil dan memasak makananmu sendiri ketimbang tinggal di hotel yang mengharuskan kamu mengeluarkan budget lebih untuk makan diluar. Tetapi pastikan kamu  memilih destinasi yang tepat dan menggunakan kereta api sebagai alat transportasi untuk bisa menikmati perjalanan dengan santai dan meresapi setiap momen-momen yang ada selama pergi berlibur. Dengan ritme yang santai akan mempermudah mu dalam membentuk ikatan dengan tempat yang dikunjungi tanpa harus merasa tergesa-gesa.

Slow Travel Bukan Perjalanan Untuk Semua Orang

train-3169964_960_720.jpg

Perlu kamu ketahui bahwa slow travel bukanlah perjalanan yang dapat dinikmati oleh semua orang. Perjalanan ini adalah pilihan bagi mereka yang ingin memperkaya dan memperdalam pengalaman ketika melakukan perjalanan. Kata “Slow” disini bisa berarti benar-benar lambat, jika kamu adalah tipe orang yang aktif dalam melakukan perjalanan maka memilih slow travel dengan ritme yang lambat tentu saja akan membuat kamu frustasi. Terlebih dengan adanya moto tak resmi slow travel, “There’s Always Another Trip” tentu saja tidak berlaku bagi semua traveler, terutama bagi mereka dengan anggaran terbatas. Jika berniat untuk melakukan perjalanan ke Eropa, pastikan untuk memilih dengan bijak, apakah akan melakukan perjalanan seperti turis pada umumnya atau memilih untuk menemukan esensi lain yang lebih intim dengan kebudayaan sekitar. Perlu diingat bahwa slow travel adalah pola pikir dan bukan sebuah destinasi, lakukanlah perencanaan secara matang sebelum benar-benar melakukannya.

Baca Juga: The Explorer Dream: Voyage Of A Lifetime

Tags: Africa, Asia, Australia, Traveler, Slow Travel, Eropa