Sindrom Burnout diperkenalkan pertama kali pada tahun 1980 oleh psikoanalis terkemuka Amerika Serikat yakni Freudenberger. Meski sudah diperkenalkan sejak 48 tahun yang lalu, Burnout belum dikenal dan dimengerti dengan baik oleh sebagian besar masyarakat dunia modern. Berikut beberapa hal mengenai Burnout.

Baca juga: Sosok Bahlil Lahadalia, Ketua Umum HIPMI Yang Berpotensi Menjadi Menteri

Diakibatkan stress berkepanjangan

Sindrom Burnout ialah kelelahan berlebihan secara fisik, mental dan emosi akibat stres yang berlebihan dan berkepanjangan. Ketika seseorang mengalami satu stres dan aktivitas pekerjaan yang berlebihan kemudian dibebani oleh stres lain lagi dan tuntutan baru lagi secara naluriah ia akan berusaha memenuhi semua tuntutan tersebut dan kemudian dibebani oleh jadwal pekerjaan dan juga beban lain dan jika hal tersebut terjadi berkepanjangan maka stres tersebut dapat menyerap energi fisik dan emosi hingga mental secara perlahan.

Stress dan Burnout berbeda

Stres dan Burnout berbeda, Burnout adalah stres yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan dengan baik. Orang yang mengalami stres masih menaruh harapan pada apa yang ia kerjakan dan stres lebih cenderung kepada gejala fisik. Namun Sindrom burnout ialah stres yang pada akhirnya berakibat bukan hanya kepada gejala fisik melainkan juga mental dan emosi sehingga diikuti dengan perasaan tidak ada harapan, agresif dan depresif. Seringnya seseorang yang mengalami sindrom burnout tidak menyadari ia mengalami gangguan tersebut tetapi orang disekitar mulai melihat penurunan kualitas pekerjaan, perubahan prilaku dan gangguan kesehatan seperti kelelahan yang berkepanjangan.

Berdampak terhadap emosi

Tidak hanya kelelahan fisik dan psikis saja. Secara emosional sindrom Burnout juga bisa membuat tidak nyaman orang di sekitar khususnya orang terdekat dan keluarga. Misalnya, sering mudah marah, sensitif, defensif, hingga sulit diajak berbicara karena terlalu banyak berdiam diri atau melamun.

Sudah dapat didiagnosis

Burnout yang umumnya dipahami sebagai berkurangnya minat dan produktivitas dalam pekerjaan seseorang yang dipicu oleh pekerjaan yang berlebihan sekarang dapat diklasifikasikan sebagai kondisi yang dapat didiagnosis, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang memasukkannya ke dalam ICD-11, manual diagnostik organisasi. Kriteria yang tercantum untuk mendiagnosis Burnout adalah perasaan kehabisan energi atau kelelahan, eningkatan jarak dari pekerjaan seseorang atau perasaan negativisme atau sinisme terkait dengan pekerjaan seseorang, serta berkurangnya profesionalitas.

Cara mengatasi Burnout

Untuk mencegah sindrom burnout, keterampilan untuk mengatasi stres perlu dipelajari. Biasanya setiap orang memiliki cara berbeda untuk menetralisir stress. Oleh karena itu, tidak perlu ragu-ragu untuk mengkomunikasikannya kepada rekan kerja atau atasan tentang hal - hal yang memang dibutuhkan. Mengambil cuti untuk mengistirahatkan diri adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi Burnout. Selain itu relaksasi dan mendekatkan diri kepada hobi juga dapat dilakukan untuk mengatasi Burnout. Seringkali seseorang memutuskan untuk resign dari pekerjaan karena mengalami Burnout tanpa mereka sadari. Padahal, yang diperlukan adalah istirahat sejenak dari akses kehidupan yang serba cepat seperti sekarang.

 Baca juga: Berikut Beberapa Fakta Mengapa Bunga Dapat Mengurangi Rasa Sakit