Untitled.jpgFoto: Dok. Unsplash

Tidak ada pasangan manapun yang tidak menginginkan sebuah hubungan sehat di dalam hubungan mereka. Memiliki hobi yang sama seperti pergi ke restoran baru bersama, bersepeda jarak jauh, hingga  pergi traveling bersama seolah terlihat menyenangkan. Namun, ketika berbicara mengenai kebahagiaan dan kesehatan dalam suatu hubungan, ada hal lain yang perlu dipertimbangkan selain memiliki minat yang sama.

Hubungan yang sehat dibangun atas kejujuran, rasa percaya, rasa hormat, komunikasi terbuka antar pasangan, dan kedua pihak sama-sama saling membangun dan memelihara hubungan. Bahkan dalam hubungan yang sehat, pasangan tentunya akan menemukan momen ketika mereka berselisih paham sesekali, merasa frustrasi atau marah satu sama lain dari waktu ke waktu. Dan yang tidak kalah tertinggal adalah kesadaran diri. Mengetahui diri kita secara dalam akan sangat membantu membangun hubungan yang sehat. 

Menghormati diri sendiri dan orang lain adalah karakteristik utama dari hubungan yang sehat. Tidak peduli bagaimana Kamu menanggapinya, hubungan yang sehat penting untuk dibangun karena ketika sebuah hubungan antar dua orang berubah menjadi hubungan yang toxic, hal ini tentunya akan merusak kualitas hidup karena adanya peningkatan level depresi, rasa cemas, bahkan mempengaruhi pola tidur dan kesehatan jantung.

Apakah hubungan kalian sehat? Kenali dulu tanda-tanda ini sebelum kamu memberitahu kepada banyak orang mengenai kemesraan hubungan kalian.

Kepercayaan Adalah Inti dari Hubungan

priscilla-du-preez-xM4wUnvbCKk-unsplash.jpgFoto: Dok. Unsplash

Kepercayaan adalah hal mendasar dalam semua hubungan. Namun, dengan kehadiran social media dan smartphone, terkadang hal tersebut bisa menjadi sebuah alasan untuk melihat ke dalam akun lalu seolah-olah mencari kesalahan untuk memuaskan rasa penasaran atau ketakutan mereka. Tetapi, bagi pasangan yang berada dalam hubungan yang sehat, mereka tidak perlu melakukan hal tersebut. Hal itu karena pasangan tersebut menunjukkan bahwa mereka dapat mempercayai satu dengan yang lain dengan memberi masing-masing kebebasan dan ruang yang dibutuhkan tanpa harus memeriksa isi dari ponsel dan akun social media secara terus-menerus.

Mengetahui Love Language Satu Sama Lain

daniel-j-schwarz-YtY724tdl7Y-unsplash.jpgFoto: Dok. Unsplash

Di dalam buku "The 5 Love Languages" karya Gary Chapman disebutkan bahwa ketika pasangan saling mengetahui bahasa cinta satu sama lain, hal itu akan membantu mereka untuk lebih langgeng karena setiap pasangan bisa memenuhi kebutuhan cinta mereka. Lima bahasa cinta tersebut adalah: kata-kata dan pujian, menghabiskan waktu bersama secara berkualitas, memberi hadiah, mengekspresikan cinta melalui tindakan, dan sentuhan fisik. Dalam hubungan yang sehat, pasangan saling meluangkan waktu untuk mempelajari "love language" satu sama lain sehingga membantu mereka untuk mengekspresikan perasaan cinta mereka dengan cara yang sesuai untuk berdua.

Menjadi Sebuah Tim

shawn-fields-zsppCWsxJy0-unsplash.jpgFoto: Dok. Unsplash

Hubungan yang sehat berarti bahwa pasangan mengerti bahwa mereka berada di dalam “tim” yang sama. Dalam hubungan yang sehat, kedua belah pihak mendiskusikan dan menyepakati hal-hal penting yang bermakna satu sama lain. Salah satu contohnya adalah mendiskusikan anggaran untuk sesuatu yang besar, seperti liburan. Pasangan yang tidak suportif dalam hubungan yang tidak sehat akan abai terhadap tujuan tersebut dan mungkin malah menyabotase keuangan atau anggaran mereka untuk berbelanja hal tidak penting, sepuasnya. Jika salah satu pasangan berulang kali mengabaikan apa yang ingin dicapai untuk kepentingan berdua, mungkin sudah saatnya untuk mencari waktu dan mengkomunikasikannya secara serius. 

You Feel Happy and Supported

scott-broome-BcVvVvqiCGA-unsplash.jpgFoto: Dok. Unsplash

Setelah fase kegembiraan di awal hubungan memudar, coba tanyakan kepada diri kamu sendiri seperti “Apakah saya merasa bahagia dan didukung oleh pasangan saya?” atau “Apakah pasangan saya mendukung saya untuk meraih hal yang ingin saya capai semasa hidup saya?” dan seterusnya. Jika pasangan merasakan ketegangan atau kurangnya dukungan, membicarakannya secara terbuka kepada pasangan menjadi salah satu hal yang sehat untuk dilakukan.

Merasa tidak bahagia dalam suatu hubungan dapat menyebabkan masalah kesehatan di kemudian hari. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada Juli 2015 di Journal of Affective Disorders, penelitian tersebut mengamati hampir 5.000 orang dewasa di atas usia 50 yang sudah atau telah berpasangan memiliki interaksi negatif yang sering terlihat dalam suatu hubungan. Sehingga hal itu meningkatkan kemungkinan menderita depresi dan kecemasan, bahkan disfungsi yang berlarut hingga menyebabkan stress.  

Komunikasi Terbuka

carly-rae-hobbins-zNHOIzjJiyA-unsplash.jpgFoto: Dok. Unsplash

Pasangan dalam hubungan yang sehat biasanya berbicara tentang hal-hal yang terjadi dalam hidup mereka seperti keberhasilan, kegagalan, dan segala sesuatu di antaranya. Setiap pasangan akan merasa nyaman ketika membicarakan masalah apapun yang muncul. Mulai dari hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti stres pekerjaan atau teman, hingga masalah yang lebih parah, seperti kesehatan mental atau masalah keuangan. Bahkan jika mereka memiliki pendapat yang berbeda, mereka akan mendengarkan tanpa menghakimi dan kemudian berbagi perspektif mereka.

Conflict Resolution

krakenimages-376KN_ISplE-unsplash.jpgFoto: Dok. Unsplash

Bahkan dalam hubungan yang sehat pun, pasangan akan memiliki perselisihan sesekali dan merasa frustasi terhadap satu sama lain dari waktu ke waktu. Hal itu sangat normal, dan bukan berarti hubungan pasangan tersebut tidak sehat. Yang penting adalah bagaimana cara pasangan tersebut menangani masalah. Jika pasangan dapat membicarakan perbedaan mereka dengan sopan, jujur, dan dengan rasa hormat, maka mereka berada di jalur yang benar. Perlu diketahui bahwa pasangan yang dapat menyelesaikan masalah tanpa menghakimi atau menghina sering kali dapat menemukan kompromi atau solusi.