shes-beautiful-when-shes-angry-movie-review.jpg

Foto: She's Beautiful When She's Angry

Tidak seperti perempuan masa sekarang yang bisa bebas berkarya dan berpendapat, perempuan zaman dulu menghadapi banyak kesulitan, bahkan untuk mengutarakan pendapat pun mereka harus berpikir dua kali. Namun, lima penulis wanita ini menolak untuk mengikuti norma-norma sosial yang mengekang mereka. Mereka memilih untuk menggambarkan kondisi sosial dan politik melalui tulisan. Berikut lima penulis wanita yang berhasil mendobrak batas-batas sosial dan menantang status quo pada zamannya masing-masing.

Jane Austen

Jane-Austen-Cassandra-engraving-portrait-1810.jpgFoto: Brittanica

Jane Austen hidup pada masa ketika wanita masih punya ruang yang terbatas untuk mengejar keinginan-keinginannya. Mulai menulis sejak remaja, tulisan-tulisan karya penulis novel Sense and Sensibility ini selalu menggambarkan kehidupan sosial rakyat Inggris kelas menengah dan atas di abad ke-19 dan banyak menyentuh pembahasan tentang kehidupan wanita di abad tersebut. Seperti dalam novel Pride and Prejudice, Jane menciptakan tokoh wanita bernama Elizabeth Bennet yang berani melawan norma-norma yang ada dalam masyarakat pada saat itu.

Mary Shelley

mary-shelley-9481497-2-raw.jpgFoto: Biography

Mary Shelley adalah penulis Frankenstein, novel fiksi ilmiah pertama yang pernah ditulis. Namun, novel ini harus diterbitkan secara anonim karena di era tersebut, penulis wanita tidak umum untuk dipublikasikan, terutama dengan genre novel yang dianggap jauh dari kesan feminin. Bahkan, kata pengantar untuk Frankenstein juga ditulis oleh suami Shelley agar novel ini dapat diterima masyarakat luas. Pada akhirnya, ia berani menulis namanya sendiri sebagai penulis di edisi kedua novel tersebut. 

Harriet Beecher Stowe

harriet_beecher_stowe.jpgFoto: America Comes Alive

Harriet Beecher Stowe adalah seorang aktivis antiperbudakan abad ke-19 di Amerika Serikat. Salah satu hal yang ia lakukan untuk mendukung gerakan tersebut adalah melalui novelnya yang berjudul Uncle Tom’s Cabin. Novel ini bercerita tentang kehidupan para keluarga korban perbudakan yang harus terpisah dari satu sama lain karena perdagangan budak. Uncle Tom’s Cabin terjual sebanyak 300.000 eksemplar di Amerika Utara dan berhasil mengubah pandangan banyak orang terhadap perbudakan. 

Octavia Butler

aguirre-octavia-butler_01.jpg

Foto: New York Public Library

Satu lagi penulis fiksi ilmiah wanita yang masuk dalam daftar ini. Octavia Butler merupakan penulis yang terkenal dengan novel-novelnya yang mengeksplorasi isu-isu ras, gender, kelas, dan kekuasaan. Menjadi penulis wanita berkulit hitam di tahun 1970-an tidak membuatnya gentar untuk tetap bersinar dalam dunia sastra yang didominasi oleh penulis-penulis pria berkulit putih. Berkat imajinasinya yang luar biasa dan karya-karya visionernya, Butler berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi, seperti Hugo Award dan Nebula Award. Ia adalah penulis fiksi ilmiah pertama yang menerima MacArthur Fellowship 

Alexandra Kinias

fullsizeoutput_4867.jpeg

Foto: Digital Arabia Network

Penulis asal Mesir ini membahas tentang kesulitan yang harus dihadapi perempuan dalam lingkungan yang dikuasai oleh pria. Selain itu, ia menjadi co-writer dalam film berjudul Cairo Exit. Film ini sempat disensor di negaranya sendiri, tetapi justru mendapat pengakuan di kancah perfilman internasional dan memenangi penghargaan film non-Eropa terbaik di European Independent Film Festival. Alexandra Kinias juga membuat, Women of Egypt, sebuah majalah online yang memberikan ruang bagi perempuan-perempuan Mesir untuk menyuarakan pendapat mereka.

Baca juga: 5 Perpustakaan di Jakarta yang Bikin Betah Membaca Seharian
 

Tags: Culture, Novel, Feminism, Books, Novels, Buku, Feminisme, Penulis Perempuan, Female Authors, Jane Austen, Octavia Butler, Mary Shelley, Alexandra Kinias, Harriet Beecher Stowe