1/7 Barack Obama, ‘Thinking Fast and Slow’ karya Daniel Kahneman

Barack.jpgFoto dok: flikr.com

Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama adalah salah satu pemimpin negara yang gemar membaca. Mulai dari fiksi hingga sejarah Amerika, suami dari Michelle Obama ini selalu meluangkan waktu untuk membaca buku di sela-sela kesibukannya. Pada salah satu wawancaranya, ia mengatakan bahwa membaca buku adalah sebuah tradisi yang menyenangkan yang selalu ia lakukan sejak kecil. “Banyak buku yang mempengaruhi dan mengubah hidup saya. Masing-masing dengan cara yang sangat berbeda.” Saat masih menjabat, membaca buku di pagi hari merupakan rutinitas yang tidak pernah terlewatkan olehnya. Karena kecintaannya inilah ia juga merilis daftar buku yang ia baca melalui Instagramnya yang bertajuk Barack Obama’s Favorite Books of 2019.  Dalam daftar yang ia bagikan, terdapat 19 buku termasuk ‘Trick Mirror’ karya Jia Tolentino, ‘How to Do Nothing: Resisting the Attention Economy’ karya Jenny Odell, ‘The Heartbeat of Wounded Knee: Native America from 1890 to the Present’ oleh David Treuer, ‘Finding My Voice,’ karya Valerie Jarrett, dan ‘The Moment of Lift’ dari Melinda Gates. Selain buku, ia pun juga gemar mendengarkan musik, menonton film dan menulis. Beberapa karya tulisnya termasuk ‘Dream from My Father’ dan ‘The Audacity of Hope.’

Salah satu buku yang memberikan pengaruh besar terhadap karirnya sebagai presiden adalah ‘Thinking Fast and Slow’ karya Daniel Kahneman. Ekonom pemenang hadiah Nobel ini menjelaskan dalam bukunya mengenai kapan kita harus mempercayai (dan tidak mempercayai) intuisi kita dan kapan memanfaatkan manfaat dari pemikiran yang lambat. Buku ini memberikan wawasan tentang bagaimana pilihan dibuat dalam bisnis dan kehidupan pribadi kita - dan bagaimana menggunakan teknik yang berbeda untuk menghindari gangguan mental yang sering membuat kita mendapat masalah.
 
Selain buku karya Kahneman, Obama juga merupakan salah satu penggemar buku karya istrinya. Buku berjudul 'Becoming' karya Michelle ini merupakan sebuah memoar inspiratif yang menceritakan kehidupan pribadinya sebagai First Lady of the United States (FLOTUS) pertama keturunan Afrika, kisah masa kecilnya di South Side of Chicago dan pasang surut kehidupannya dengan sang suami yang terpilih sebagai presiden Amerika Serikat selama dua periode. Buku ini juga menceritakan kehidupan Michelle sebagai seorang ibu yang sempat mengalami dilema antara bekerja atau mengurus keluarga. Kisah-kisah inspiratifnya terbukti memberikan banyak pengaruh kepada pembaca di berbagai belahan dunia. Dirilis pada November 2018, ‘Becoming’ telah telah terjual lebih dari tujuh juta kopi hanya dalam waktu enam minggu saja setelah perilisannya dan sudah memasuki cetakan keenam dengan total penjualan 3,4 juta eksemplar di Amerika.
 
2/7 Bill Gates - ‘The Moment of Lift’ karya Melinda Gates

Setiap pagi, orang terkaya di dunia Bill Gates rajin membaca surat kabar harian guna menambah pengetahuannya. Tak hanya mengenai bisnis, pendiri Microsoft ini juga aktif membaca berbagai berita dengan topik yang beragam.Selain surat kabar, Bill Gates juga aktif membagikan rekomendasi buku yang ia baca melalui laman Instagramnya. Pada Desember tahun lalu, ia membagikan rekomendasi bukunya melalui sebuah video berjudul Holiday Book Recommendations 2019. Buku tersebut adalah ‘Prepared’ karya Diane Tavenner, ‘An American Marriage’ karya Tayari Jones, ‘Growth: From Microorganism to Megacities’ karya Vaclac Smil, ‘Why We Sleep’ karya Matthew Walker dan ‘These Truths: a History of the United States’ karya Jill Lepore. Dilihat dari laman Instagramnya, salah satu buku favorit Bill Gates adalah ‘The Moment of Lift’ karya sang istri, Melinda Gates, yang menceritakan tentang pengalamannya dalam menjalankan berbagai misi sosial untuk membantu orang-orang membutuhkan di berbagai belahan dunia. Dalam buku yang menyentuh hati dan memikat ini, Melinda Gates membagikan inspirasi berharga dari orang-orang inspiratif yang ia temui selama bekerja dan bepergian ke seluruh dunia. Beberapa cerita akan membuat hati kita hancur, tetapi cerita-cerita yang lain mampu melambungkan harapan. Para pahlawan ini telah membangun sekolah, menyelamatkan hidup, mengakhiri perang, memberdayakan anak perempuan, dan mengubah budaya. Sama seperti judulnya, buku ini memberikan motivasi positif kepada siapa saja yang membacanya. 

 
3/7 Warren Buffett - "The Intelligent Investor" karya Benjamin Graham

warren.jpgFoto dok: thecapitaladvisor.com

Pada salah satu wawancaranya dengan Bussines Insider, miliarder  Warren Buffett mengatakan jika salah satu kiat suksesnya adalah membaca buku. Membaca 500 halaman setiap harinya, Warren mengatakan bahwa buku adalah hal terpenting yang tidak akan pernah ia lewatkan. Salah satu buku yang selalu ia rekomendasikan adalah "The Intelligent Investor" karya Benjamin Graham. Merupakan buku terbaik tentang investasi yang pernah ditulis, buku ini mengajarkan bahwa untuk sukses seumur hidup, kita tidak memerlukan IQ, wawasan bisnis yang luar biasa atau informasi orang dalam melainkan kerangka kerja intelektual yang kuat untuk membuat keputusan dan kemampuan menjaga emosi agar tidak merusak kerangka tersebut. Buku yang dirilis pada tahun 1949 ini secara tepat dan jelas menetapkan kerangka berpikir yang tepat. Pada siapapun yang membacanya, Warren berpesan agar kita memberikan disiplin emosional dan kemauan yang kuat sehingga berbagai hal yang kita pelajari dapat membantu kita untuk merealisasikan kesuksesan.
 
4/7 Steve Jobs - "The Innovator's Dilemma: The Revolutionary Book That Will Change the Way You Do Business" karya Clayton Christensen

Steve.jpgFoto dok: knowledgeguru.com

Bagi pendiri Apple, Steve Jobs, kegagalan adalah awal mula sebuah kesuksesan. Belajar dari berbagai kegagalan yang dialaminya, Steve Jobs mulai berinovasi dan salah satu buku yang mengilahimnya adalah ‘The Innovator's Dilemma: The Revolutionary Book That Will Change the Way You Do Business’ karya Clayton Christensen. Jobs mengatakan bahwa buku ini adalah satu alasan mengapa Apple perlu merangkul cloud computing dan mengatakan bahwa melakukan transoformasi merupakan langkah yang tepat untuk memajukan bisnisnya. Buku ini menceritakan mengenai kegamangan perusahaan besar dalam merancang strategi inovasi untuk kelangsungan hidup bisnisnya di masa yang akan datang. Dirilis pada tahun 1997, buku ini menjelaskan kegagalan perusahaan besar dalam menghadapi inovasi disruptif dan memberikan pesan hati-hati kepada perusahaan besar serta pesan keberanian kepada pemain baru untuk berani berinovasi menaklukan pasar yang dikuasai oleh pemain besar.
 
5/7 Jeff Bezos - "The Remains of the Day" karya Kazuo Ishiguro

eonline jeff.jpgFoto dok: eonline.com

Pertama kali diterbitkan pada tahun 1989, "The Remains of the Day" karya Kazuo Ishiguro bercerita tentang seorang kepala pelayan yang mengabdi berpuluh-puluh tahun di Darlington Hall yang berada di Inggris. Merupakan seorang pekerja yang penuh tanggung jawab dan selalu memberikan terbaik untuk majikannya, Lord Darlington, ia memegang teguh prinsip profesialisme dalam dirinya. Namun, di saat yang bersamaan kepala pelayan tua ini harus menghadapi berbagai masalah dari masa lalunya. Sebagai salah satu buku favoritnya, Pendiri dan CEO Amazon, Jeff Bezos mengatakan bahwa ia berlajar bvanyak soal kehidupan dan tentang penyeselan. Baginya pesenyesalan tidak akan pernah meninggalkan kit ajika kita tidak mau berdamai dengannya. Hal ini juga ia terapkan dalam strategi bisnisnya dimana kegagalan dan penyeselan harus dijadikan sebuah pelajaran dan berdamai adalah langkah utama untuk menuju kesuksesan.
 
6/7 Elon Musk - ‘The Foundation Trilogy’ karya Isaac Asimov
 Elon.jpgFoto dok: businessinsider.in

‘The Foundation Trilogy’ karya Isaac Asimov adalah salah satu buku favorit pendiri dan CEO space Exploration Technogies Corp, Elon Mask. Serial buku the Foundation Trilogy ini berkisah seputar matematikawan Hari Seldon yang menghabiskan seluruh hidupnya mengembangkan cabang matematika yang dikenal sebagai psychohistory.Musk menuturkan, pelajaran sejarah akan menunjukkan peradaban yang bergerak dalam siklus. Buku ini juga membahas bagaimana sejumlah rangkaian peristiwa menyebabkan tingkat teknologi menurun. Seri buku ini memiliki pengaruh besar dalam pemikiran Musk tentang dunia.

7/7 Mark Zuckerberg - ‘The Aeeneid’ karya Virgil

Mark.jpg Foto: economictimes.indiatimes.com

Sejak tahun 2015, Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg menantang dirinya untuk membaca buku baru setiap minggunya dengan berbagai topik seputar budaya, kepercayaan, sejarah dan teknologi. Salah satu buku favoritnya adalah ‘The Aeeneid’ karya Virgil. Ditulis antara 28-19 sebelum masehi, The Aeneid menceritakan kisah legendary Aeneas, sebuah Trojan yang melakukan perjalanan ke Italia dan menjadi nenek moyang orang Romawi. The Aeneid dianggap sebagai sastra klasik Italia. Mark Zuckerberg mengetahui buku tersebut saat belajar bahasa Latin di sekolah menengah atas (SMA). Ia menuturkan, buku itu tidak mengenal batas waktu dan kebesaran.