Memilih produk perawatan wajah dan kosmetik tidak hanya dapat dilihat dari kecocokan. Lebih dari itu, kita juga harus selektif terhadap kandungan yang ada di dalamnya. Selain menghindari ingredients yang membahayakan, kita pun juga dapat menghindari bahan yang didapatkan dengan praktik yang salah. Meski berbagai brand kecantikan kini sudah mulai menerapkan prinsip vegan dan cruelty free, masih banyak produk di luar sana yang masih menggunakan bahan yang berasal dari hewan dan diuji coba pada hewan. Berikut ini kami rangkum lima bahan dalam produk kecantikan dari hewan yang umum digunakan.

1/5 Carmine

5f6b05e1-7ff4-4ac7-9070-58dd9e17f3d7.jpgFoto dok: Istock Photo

Tahukah kamu bahwa warna merah yang biasa digunakan untuk kosmetik berasal dari serangga Cochineal? Banyak ditemukan di benua Amerika, serangga Cochineal (Dactylopius coccus) betina memakan tanaman kaktus sehingga akan menghasilkan warna merah pekat (carmine) ketika kumbang tersebut dikeringkan dan dihancurkan. Tidak hanya itu saja, setiap 1 kg zat pewarna merah tua (carmine) dibutuhkan paling tidak 150.000 ekor serangga. Jadi, satu lipstik rata-rata mengandung 1.000 ekor serangga ini.

2/5 Guanine

e2811d52-8789-49e6-96f1-9208c97d1185.jpgFoto dok: Istock Photo

Selain serangga Cochineal, sisik ikan juga menjadi salah satu bahan hewani yang kerap digunakan untuk pembuatan makeup terutama pada eyeshadow, blushes, bahkan kutek. Mengandung bahan yang disebut dengan Guanine, sirip ikan menghasilkan bahan pewarna yang berkilauan dan memancarkan cahaya sehingga wajar saja bila 75-97 persen kosmetik menggunakan bahan ini. Untuk mendapatkan efek kilau yang menawan, sirip ikan dikikis dan direndam dalam alkohol.

3/5 Madu

6dfc2f5d-a94b-4e96-803d-68ec050b0197.jpgFoto dok: Istock Photo

70 dari 100 tanaman pangan teratas yang ditanam di seluruh dunia bergantung pada hewan penyerbuk seperti lebah. Meskipun madu menjadi salah satu bahan yang wajar digunakan untuk makanan maupun perawatan tubuh, banyak peternakan lebah yang tidak menjalankan etika produksi mereka dengan baik. Pada musim dingin, peternak seringkali memberi makan mereka dengan air manis mengandung gula yang membuat sistem imun mereka melemah dan membuat mereka rentan akan infeksi. Bahkan, praktik yang lebih ekstrem juga dilakukan di mana peternak memotong sayap ratu lebah untuk menghindari kerumunan.

4/5 Squalene

9183988d-28ae-43c1-8200-fe3459c2cae9.jpgFoto dok: Istock Photo

Sangat menghidrasi, meningkatkan kolagen dan ampuh melawan kerusakan kulit serta radikal bebas, Squalene telah menjadi bahan produk perawatan kulit yang paling populer selama berabad-abad. Dan dalam waktu yang lama, memanen minyak hati ikan hiu adalah cara paling umum untuk mendapatkannya. Pada tahun 2008, brand kecantikan ternama berjanji untuk mengganti squalene hiu dengan alternatif nabati—yang berasal dari minyak zaitun, dedak padi, dan biji bayam. Tapi pilihan nabati rata-rata 30 persen lebih mahal daripada yang diperoleh dari hiu, jadi kira-kira 2,7 juta hiu masih dibunuh setiap tahun atas nama kecantikan.

5/5 Lanolin

8c7a50ff-ab5c-462e-ae8c-fa1b052e66f8.jpgFoto dok: Istock Photo

Zat berminyak dari kulit domba, Lanolin, dikenal memiliki sederet fungsi termasuk melambabkan, melembutkan, mencegah dan mengobati kulit yang kasar, kering, bersisik, dan gatal. Beberapa produk kecantikan yang ada dipasaran juga kerap menggunakan bahan ini untuk membuat lipstik, bedak, krim pelembab dan krim cukur. Untuk mendapatkan Lanolin, domba akan dicukur terlebih dahulu, lalu wol nya diambil dan dimasukkan ke dalam mesin di mana minyak akan dipisahkan dari kotoran dan bahan kimia lain yang terkandung di dalamnya. Meski terlihat sederhana, ada sisi gelap di balik industri wol sendiri. Dilansir dari axiologybeauty.com, permintaan terhadap lanoline untuk produk perawatan dan kecantikan mengalami peningkatan dan diperkirakan akan bernilai lebih dari 450 juta dolar AS pada tahun 2024. Melihat hal tersebut, satu-satunya cara untuk memenuhi permintaan pasar adalah meningkatkan produksi lanolin secara cepat dan hal ini terkait erat dengan wol yang diproduksi secara masal di mana industri pemotongan hewan kerap melakukannya dengan secara tidak menusiawi. Karena industri lanolin bergantung langsung pada wol yang diproduksi secara masal, lanolin juga mendukung praktik yang kejam tersebut.