Generasi Millenial dan Gen Z termasuk yang paling vokal dalam menyuarakan ketidakadilan di lingkungan sosial dan menyorot perusahaan yang hanya pintar berkata-kata menurut survey global Deloitte tahun lalu. Sebagai generasi dengan purchasing power yang kuat, opini para generasi tersebut tidak dapat dikesampingkan oleh brand maupun pemerintah. 

Dua generasi di atas percaya setiap individu turut andil dalam membawa perubahan. Berikut 5 aktivis dari Gen.T community yang memperjuangkan berbagai isu sosial dari keadilan HAM, LGBTQ+, komunitas disabilitas dan hak voting bagi generasi muda.

1/5 Andrea Gunawan

Andrea Gunawan Tatler Asia.jpeg

Foto: Dok. tatlerasia.com

Aktivis sosial media, Andrea Gunawan bertekad untuk mematahkan stigma seputar kesehatan seksual di Indonesia. Ia rutin membagikan beragam konten tentang pentingnya sexual wellness, responsible sexual behavior dan body positivity kepada lebih dari 230 ribu followersnya. 

Selain itu, Andrea juga bekerjasama dengan UNICEF dan Linkages – HIV funded service project dari Amerika Serikat untuk memotivasi masyarakat untuk melakukan tes HIV. Andrea juga memiliki dua brand untuk kesehatan dan wellness wanita – Elektra Intimates dan Filmore, serta podcast mingguan berjudul Taboo Tuesday yang membahas beragam hal dari beauty standards, toxic parenting dan inklusivitas.

2/5 Qyira Yusri

Qyira Yusri.jpeg

Foto: Dok. Khairul Imran

Qyira Yusri mencuri perhatian di panggung politik Malaysia saat social entreprise miliknya, Undi18, berhasil mengubah keputusan pemerintah untuk menurunkan standar usia pemilu dari 21 ke 18 tahun. Tindakan ini efektif memberi delapan juta individu hak untuk menentukan masa depan Negara yang lebih baik. 

“Voting adalah satu-satunya jalan suara rakyat didengar dan tindakan wakil rakyat dapat dipertanggung jawabkan,” ucap Qyira yang juga merupakan co-founder dan Education Director Undi18. “Dengan memberikan hak suara, kita memberi pesan bagi para politikus terhadap sosok pemimpin yang diinginkan dan kebijakan yang diharapkan," tambahnya. Undi 18 juga bekerjasama dengan NGO, corporate partners dan agensi pemerintah untuk mengedukasi generasi muda Malaysia tentang isu politik dan sosial.

3/5 Daryl Yang

Daryl Yang.jpeg

Foto: Dok. Darren Gabriel Leow

Di tahun 2014, Daryl Yang menulis sepucuk surat tentang guidelines pemerintah tentang seksualitas kaum muda – termasuk topik LGBTQ+, menjadi viral. Sejak saat itu, Ia menjadi campaigner isu gender equality, disability rights dan kekerasan seksual di lingkungan sekolah. Di Almamaternya – Yale NUS College, Daryl mendirikan Community for Advocacy & Political Education, sebuah organisasi mahasiswa yang menggalakan literasi politik dan partisipasi sosial di Singapura.

“Dewasa ini, banyak social movements yang dipimpin anak muda dan saya harap kami dapat bekerjasama untuk menciptakan masa depan yang penuh dengan keadilan,” kata Daryl. Saat ini, Daryl sedang melanjutkan studi untuk titel Master of Law di Berkeley Law di California dengan fokus public interest dan social justice melalui Fullbright Program.

4/5 Noor Mastura

Noor Mastura.jpeg

Foto: Dok. tatlerasia.com

Noor Mastura bertumbuh dalam keadaan serba kekurangan. Ia pernah menjadi tunawisma, dihina karena warna kulitnya dan menjadi suicidal. Terlepas dari keadaan tersebut, tekad Noor mengalahkan situasi yang memampukannya menolong orang lain. Di tahun 2013, Ia mendirikan organisasi non-profit, Back2Basics dala format Facebook Group yang menggerakkan relawan untuk mengantar bahan pokok gratis ke sejumlah keluarga miskin.

Dua tahun setelahnya, Noor juga mendirikan Interfaith Youth Circle sebagai media untuk meluruskan persepsi keliru publik terhadap kaum Muslim yang marak terjadi di Singapura sejak berkembangnya terror ISIS. Platform terbarunya, Centre for Safeguarding Communities, yang sebelumnya bernama Being Bravely Woman, menyediakan online safe space bagi wanita berkulit coklat dan Muslim untuk berdiskusi tentang kekerasan seksual, misogyny dan self-worth.

5/5 Nalutporn Krairiksh

Nalutporn Krairiksh.jpeg

Foto: Dok. tatlerasia.com

Nalutporn Krairiksh didiagnosa mengidap Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) di usia 9 tahun, tetapi Ia menolak untuk dikaitkan dengan pandangan miring masyarakat terhadap kaum disabilitas. Di tahun 2017, Nalutporn mendirikan ThisAble.me, platform media Thailand pertama yang fokus pada beragam isu terkait disabilitas.

Sebelum mendirikan platform tersebut, wanita yang pernah berprofesi sebagai jurnalis ini juga pernah bekerja untuk koran non-profit online – Prachatai, fokus terhadap gender equality dan juga sebagai anggota pendiri partai politik bernama Future Forward Party.