Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April menjadi momen tentang peran dan kekuatan perempuan di Indonesia. Perjuangan serta kegigihan Kartini untuk mewujudkan impiannya agar kaum perempuan Indonesia bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan setara dengan pria patut diapresiasi dan dijadikan teladan bagi kita semua. perjuangannya ini lah yang juga menginspirasi dan melahirkan perempuan-perempuan hebat masa kini yang turut memperjuangkan hal-hal penting lainnya. Berikut 5 sosok Kartini masa kini yang patut kita apresiasi. 

1/5 Angkie Yudistia, Founder of Thisable Enterprise, penulis buku & Staff Khusus Presiden periode 2019-2024

Angkie Yudistia dikenal oleh masyarakat luas sebagai perempuan muda yang menginspirasi. Keterbatasan yang dimiliki tak menghalanginya mewujudkan mimpi. Ia justru menjelma menjadi sosok perempuan dengan segudang prestasi.

Lahir di Medan pada 5 Mei 1987, Angkie adalah anak muda penyandang disabilitas yang aktif bergerak di sociopreneur, aktif di organisasi, baik di dalam nengeri maupun internasional dan merupakan anggota Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Pada tahun 2019, dirinya didaulat menjadi staf khusus Presiden yang salah satunya berfokus untuk membantu pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul sebagaimana yang digaungkan oleh pemerintah.

Hal utama yang ia kerjakan adalah meningkatkan kemampuan para penyandang disabilitas sehingga bisa berdaya saing di berbagai sektor pekerjaan. Selain itu, ia juga berfokus pada peningkatan kemampuan lulusan sekolah luar biasa agar siap memasuki dunia kerja sehingga tidak ada lagi penyandang disabilitas yang tidak mendapatkan pekerjaan di Tanah Air.

Pada tahun 2011, dirinya mendirikan Thisable Enterprise yang kini telah berkembang menjadi sebuah grup yang membawahi Thisable foundation, Thisable Recruitment, serta Thisable Digital. Melalui perusahaan-perusahaan tersebut, Angkie menyediakan pelatihan bagi penderita disabilitas agar dapat bekerja secara profesional.

Selain itu, ia juga turut merilis berbagai buku, "Perempuan Tunarungu Menembus Batas” (2011), “Setinggi Langit” (2013) dan "Become Rich as Sociopreneur" pada 2019. Sebelumnya, ia juga pernah bekerja di beberapa perusahaan besar seperti IBM Indonesia dan Geo Link Nusantara.

2/5 Farwiza Farhan, Chairperson Yayasan HAkA, aktivis lingkungan dan pegiat konservasi

Nama Farwiza Farhan sempat ramai dibicarakan pada tahun 2016 lalu saat Ia mendampingi aktor Hollywood, Leonardo DiCaprio, ketika mengunjungi Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh. Wanita yang lahir pada 1 Mei 1986 ini bukanlah penjaga hutan biasa. Ia adalah seorang aktivis lingkungan, pegiat konservasi dan penggagas organisasi nirlaba HAkA (Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh) dengan berbagai rekam jejak yang mengesankan.

Dalam aktivitasnya, HAkA memiliki visi untuk menciptakan Aceh yang sehat dan kuat, baik dari segi sosial, finansial, maupun lingkungan. Untuk itu, Farwiza dan timnya mendorong peran serta masyarakat Aceh untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang meningkatkan fungsi lingkungan hidup bagi ekosistem di sekitarnya.

KEL bukanlah Kawasan biasa. Wilayah dengan bentang alam seluas 2,6 juta hektar yang terentang dari Aceh sampai Sumatra Utara ini sangatlah istimewa karena KEL merupakan tempat terakhir di dunia dimana badak, gajah, orang utan, dan harimau hidup bersama. Selain itu Kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional oleh pemerintah. 

Wanita yang akrab disapa Wiza ini lahir dan dibesarkan di Banda Aceh. Menjalani masa SMA di lingkungan Madania Boarding School, Bogor, Wiza melanjutkan Pendidikan ke jenjang sarjana di University Sains Malaysia dan mengambil jurusan Biologi Kelautan. Langkah pendidikannya tidak berhenti sampai situ saja. Setelah lulus S1, Ia pun kembali meneruskan sekolah ke University of Queensland, Australia, di Jurusan Manajemen Lingkungan. Saat ini Ia pun sudah mendapat gelar PhD dari Radboud University Nijmegen dan University of Amsterdam.

Untuk pendekatan holistiknya dalam konservasi melalui advokasi, komunitas dan perlindungan, Farwiza menerima berbagai penghargaan seperti Future for Nature pada 2017 dan Whitley Award pada 2016. Selain itu, Farwiza juga merupakan salah satu Gen.T list 2018. 

3/5 Leonika Sari, Founder Reblood 

Aplikasi ReBlood mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat namun dalam dunia kesehatan dan sosial, ReBlood merupakan satu aplikasi start-up yang sangat membantu. ReBlood adalah aplikasi penyedia informasi tempat dan event terdekat bagi kamu yang ingin memberikan donor darah yang didirikan oleh seorang wanita asal Surabaya, Leonika Sari.

Sejak SMA, wanita yang akrab disapa Leo ini bercita-bercita ingin menjadi dokter. Namun, ketertarikannya dalam bidang teknologi membuatnya menekuni bidang ini. Lulusan Sistem Informasi di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini mengatakan bahwa minatnya pada dunia teknologi makin kuat ketika dirinya mengikuti program MITx Global Entrepreneurship Bootcamp pada 2014. Dari situlah, Ia berinisiasi untuk mendirikan Reblood.

Leo mengungkapkan bahwa startup yang berdiri sejak 2015 tersebut bertujuan untuk membangun Indonesia yang lebih baik dengan menyelamatkan lebih banyak nyawa melalui donor darah. Di masa depan diharapkan tidak ada lagi orang-orang yang meninggal karena terlambatnya transfusi darah.
Saat ini Reblood bergerak di Jakarta dan Surabaya dan berperan untuk membantu Palang Merah Indonesia (PMI) untuk menggaet lebih banyak pendonor, terutama kalangan anak muda.

4/5 Adriana Viola Miranda, medical student, MIT Covid-19 challenge winner dan co-founder of Students Against Covid

Adriana.jpgFoto dok: Students Against Covid 

Adriana Viola Miranda adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang menjuarai kompetisi internasional bertajuk MIT COVID-19 Challenge: Latin America vs COVID-19 pada kategori “Track B. New Ways to Deliver Care in a COVID-19 World”.

Pada kompetisi daring yang diselenggarakan oleh Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat pada 19-21 Juni 2020 tersebut, dirinya merupakan satu-satunya mahasiswa dalam tim AMIGO yang anggotanya berasal dari berbagai negara, yaitu Chili, Brasil, Argentina, Sri Lanka, dan Amerika Serikat. 

Melalui kompetisi ini, Adriana dan tim menawarkan solusi berupa pelayanan kesehatan dengan sistem telemedicine berbasis WhatsApp atau SMS bagi yang tidak memiliki akses ke internet, agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang memadai bagi populasi rentan dengan kondisi kronis. Dengan menggunakan machine learning, ia dan tim berharap bahwa sistem tersebut mampu menjadi teman bagi para pasien dengan mengirimkan pesan-pesan untuk memantau gejala, konsumsi obat, serta membantu penjadwalan konsultasi ke rumah sakit.

Secara garis besar, tantangan yang dihadapi oleh Adriana dan kawan-kawan di trek B adalah mencarikan metode pelayanan kesehatan selama COVID-19 yang dapat memastikan keselamatan pasien.

Dengan pengalaman tersebut, ia menyadarkan bahwa orang-orang di seluruh dunia, dengan latar belakang keahlian yang berbeda-beda, memiliki keinginan yang besar untuk membantu masyarakat luas dalam menangani pandemi ini.

Saat ini, tim AMIGO sedang dalam proses bekerja sama untuk pilot study dengan sebuah rumah sakit di Chili. Ia berharap kedepannya solusi yang ia dan timnya tawarkan dapat diimplementasikan di Indonesia. 

“Selama ada kemauan dan keterbukaan dalam berkolaborasi, setiap orang dapat berkontribusi dalam melawan COVID-19 meski dengan kapasitas dan kemampuan yang terbatas. Jika ada kemauan, pasti ada jalan,” ujar Adriana.

Selain disibukkan dengan kegiatan kampus, Adriana juga merupakan co-founder dari Students Against Covid, Sebuah gerakan pelajar & profesional muda dari 99+ negara yang didedikasikan untuk melawan Covid-19. 

5/5 Melati dan Isabel Wijsen, Founder Bye Bye Plastic Bag 

Melihat maraknya pemakaian kantong plastik yang menyebabkan penumpukan limbah plastik di Pulau Bali tentu sangat mengkhawatirkan lingkungan. Hal ini membuat kakak beradik asal Bali, Melati dan Isabel Wijsen mendirikan organisasi bernama Bye-Bye Plastic Bags sejak tahun 2015.

Bye Bye Plastic Bags adalah sebuah organisasi yang berfokus pada pembatasan penggunaan kantong plastik di Bali. Berkat kepeduliannya terhadap lingkungan, kedua kakak beradik ini kerap diundang dalam banyak acara besar untuk menjadi pembicara. Salah satunya adalah menjadi pembicara di markas PBB di New York saat World Oceans Day di tahun 2017 silam. Kedua kakak beradik ini juga mendapat gelar Indonesia’s Most Inspiring Women versi Forbes pada tahun yang sama.