swan.jpgFoto dok: Repro buku Jawa Sejati

Bertepan dengan ulang tahun ke-90 mendiang pelopor batik Indonesia, K.R.T. Hardjonagoro atau yang dikenal dengan Go Tik Swan, Google Doodle menghadirkan tema batik untuk mengenang jasanya dalam melestarikan budaya dan seni batik Indonesia. Lalu siapakah sosok Go Tik Swan? Berikut empat fakta mengenai dirinya.

1/4 Lahir di keluarga pembatik

K.R.T. Hardjonagoro atau Go Tik Swan adalah seorang budayawan batik dan sastrawan asal Surakarta, Jawa Tengah. Lahir pada 11 Mei 1931, ia merupakan putra sulung dari keluarga produsen batik Tionghoa yang juga termasuk ke dalam golongan priayi. Saat tumbuh besar, ayah dan ibunya sibuk bekerja sehingga ia dibesarkan oleh kakenya, Tjan Khay Sing, yang merupakan seorang pengusaha batik di Solo. Dari sini lah ia mendalami budaya dan seni jawa serta proses pembuatan batik dari pengrajin lokal.

2/4 Memiliki kecintaan yang mendalam terhadap budaya Jawa

Sejak kecil, Swan sudah terbiasa bermain di antara para tukang cap serta anak-anak yang membersihkan malam dari kain dan para pencuci batik. Selain itu, ia juga sangat senang mendengarkan mereka menembang dan mendongeng tentang Dewi Sri dan berbagai cerita tradisional Jawa. Dari mereka lah ia belajar mocopot, pendangalangan, gending, Hanacaraka dan tarian Jawa. Tidak jauh dari rumah kakeknya, tinggallah Pangeran Hamidjojo, putra Paku Buwana X, seorang indolog lulusan Universitas Leiden dan juga penari Jawa klasik yang sering mengadakan latihan tari. Hal tersebut juga turut membangkitkan minatnya terhadap tari tradisional.

3/4 Seorang pelopor Batik Indonesia

Dibesarkan di keluarga yang menjunjung tinggi kebudayaan tradisional, Go Tik Swan juga memiliki ketertarikan mendalam terhadap tarian Jawa dan dalam salah satu pameran tari, ia pun bertemu dengan Presiden pertama Indonesia, mendiang Soekarno. Mengetahui latar belakang Swan, ia pun menugaskannya untuk membuat gaya batik baru yang diyakini dapat mengatasi perpecahan dan mempersatukan bangsa Indonesia.

Pada tahun 1950-an, Swan pun memenuhi permintaan Soekarno dan menciptakan Batik Indonesia dengan memadukan teknik batik daerah yang diberi nama Sawunggaling dengan motif dua ekor ayam jantan yang sedang bertarung. Karya tersebut terinspirasi dari salah seorang temannya dari Bali yang mengenakan baju dengan motif ayam berwarna merah. Konon katanya, pada zaman dahulu kala, bila seorang raja menerima tamu kehormatan, ia akan menggelar atraksi sambung ayam yang melambangkan ketangguhan terhadap serangan dari luar. Sementara nama Sawunggaling, didasarkan pada legenda Jawa Timur, yang merupakan nama tokoh legendaris pembela kebenaran yang membela rakyat pada zaman penjajahan Belanda. Setelah Sawunggaling, lahirlah berbagai batik Indonesia lainnya yang diberi nama Kukilo Pekso Wani, Terang Bulan, Sida Mukti, Parang, Pisan Bali dan lainnya.

Tak hanya mahir dalam bidang batik, Swan juga merupakan seorang ahli keris dan pemain gamelan yang terampil. Tak heran jika pengabdiannya yang tinggi terhadap budaya Indonesia tersebut diapresiasi oleh Kasultanan Surakarta dan ia pun diberi gelar Panembahan Hardjonegoro.

4/4 Telah menciptakan lebih dari 200 motif batik

Semasa hidupnya, Swan telah berhasil menciptakan setidaknya 200 motif batik Indonesia. Adapun motif batik karyanya yang sangat terkenal antara lain Peksawani, Radyo Kusumo, Parang Anggrek dan Kuntul Nglayang. Tidak hanya dikenal akan keindahannya, motif-motif yang ia ciptakan juga mengandung filosofi yang mendalam. Salah satunya seperti motif 'Kembang Bangah', yang memiliki makna sebagai surat cinta atas jati dirinya. Motif tersebut pun sempat populer pada tahun 70-an.

Tidak hanya itu saja, kecintaan Swan terhadap Batik juga mendorongnya untuk melakukan riset secara mendalam mengenai sejarah dan filsafahnya. Ia pun kemudian belajar langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwana XII yang memiliki pola-pola batik pusaka.

Dari situlah Swan memngembangkan dan menggali berbagai pola-pola tradisional yang sebelumnya tidak banyak diketahui orang tanpa menghilangkan ciri dan maknanya yang hakiki. Pola tersebut kemudian diberi warna-warna baru yang cerah, komposisi serta motif dengan pengerjaan yang halus. Hal tersebut juga menjadi alasan mengapa karyanya digemari oleh kaum wanita golongan atas pada masanya.

Saat ini karya batik Swan juga telah menjadi koleksi berbagai museum di Eropa, Amerika Serikat, Australia dan juga menjadi koleksi pribadi para pecinta batik bermutu tinggi. Bahkan hasil karyanya juga dipesan dari kalangan pejabat negara seperti Presiden RI pertama Soekarno hingga Megawati Soekarno Putri.