travels.jpgFoto dok: unsplash.com/@nielsnedel

Perjalanan musim panas biasanya identik dengan liburan keluarga, liburan di pantai yang bermandikan sinar matahari, perjalanan darat yang berkelok-kelok serta perjalanan ke berbagai negara dengan pemandangan indah. Namun, dengan adanya pandemi COVID-19 yang sedang terjadi saat ini, pengalaman berlibur mungkin tidak akan lagi sama dari yang sebelumnya. Lalu seperti apa tren berlibur pasca pandemi? Para ahli industri pariwisata ini akan menjelasakannya.

1/4 Kebersihan sebagai komoditas

kebrrsihan.jpgFoto dok: Unsplash.com/@thomasdeluze

Profesor Kedokteran dan Penyakit Menular dan Direktur Riset Vaksin Mayo Clinic, Dr. Gregory Poland mengatakan bahwa industri travel harus meyakinkan para wisatawan bahwa mereka benar-benar aman saat berpergian. “Pasca pandemi COVID-19, orang-orang akan sangat berhati-hati saat berada di area umum untuk waktu yang cukup lama.” Berkaca pada hal tersebut, Asosiasi Perjalanan Amerika Serikat atau U.S. Travel Association menerbitkan pedoman kebersihan baru yang dirumuskan oleh para profesional medis untuk membantu perusahaan memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat saat mereka berpergian dalam kondisi ‘New Normal.’
 
Terlepas dari metode perjalanan yang akan dilakukan para wisatawan, sanitasi akan menjadi perhatian utama. “Kebersihan, higenitas dan kesehatan harus diprioritaskan dan sangat berpengaruh terhadap keputusan perjalanan,” ujar pakar industri penerbangan, Henry Harteveldt, dari Atmosphere Research Group.
 
“Saat ini hampir semua maskapai penerbangan Amerika Serikat mengharuskan para penumpang menggunakan masker dan membatasi jumlah penumpang dalam penerbangan dalam upaya menciptakan jarak sosial yang aman,” jelas Scott Keyes, pendiri travel biro, Scott. Menurutnya langkah ini terbilang mahal dari perpektif bisnis, tetapi lebih murah daripada tidak memiliki penumpang sama sekali. Di sisi lain, Konrad Waliszewski, pendiri dan CEO aplikasi perjalanan TripScout mengatakan bahwa penyewaan penginapan jangka pendek seperti Airbnb dan VRBO dapat mengungguli hotel karena wisatawan ingin menghindari interaksi dengan orang asing. Namun, beberapa hotel ternama juga dapat mengungguli hotel lain dengan berbagai macam promo seperti mobile check-in dan paket quarantine dengan layanan private service.
 
Direktur pelaksana humas global untuk jaringan penasihat perjalanan, Virtuoso, Misty Bell, menganjurkan agar perusahaan pariwisata menjaga keseimbangan antara keselamatan wisatawan dan kebersihan tempat. “Mereka perlu meyakinkan pengunjung bahwa mereka memegang kontrol penuh dan menjalani gagasan pembatasan sosial meskipun nantinya peraturan ini sudah tidak berlaku lagi.” “Mereka juga harus menunjukan bahwa pengunjung masih dapat menikmati liburan mereka dengan aman dan nyaman dengan membuka banyak fasilitas penunjang yang layak untuk dikunjungi dan dinikmati.”
 
2/4 Slow Travelling akan lebih diminati

slow travel.jpgFoto dok: Unsplash.com/@simonmigaj

Selain harga dan keamanan, orang-orang akan ingin berpergian karena alasan pribadi, ujar Chip Conley, pendiri Joie de Vivre Hospitality dan Modern Elder Academy dan penasihat untuk Airbnb.
 
“Perjalanan yang berorientasi kekeluargaan dan pertemanan akan mendominasi karena banyaknya rencana pernikahan, ulangtahun ataupun reuni keluarga dan teman yang tertunda karena pandemi ini.” Ia pun menambahkan bahwa perjalanan transformasional akan lebih diminati karena banyaknya wisatawan yang ingin berpergian untuk menemukan jati diri mereka kembali.
 
“Hawaii bisa menjadi salah satu destinasi favorit di musim panas tahun ini karena para wisatawan akan menginginkan tempat terbuka untuk menikmati pemandangan alam daripada duduk di dalam ruangan penuh dengan orang dan asap rokok seperti di Florida atau Las Vegas.”
 
Dengan berbagai macam pulau dan wisata alam, Indonesia juga bisa menjadi surga bagi para wisatawan yang ingin mendekatkan diri dengan alam dan menghabiskan waktu liburan mereka di alam terbuka. Hal ini juga dapat terlihat dari meningkatnya minat perjalanan slow travelling di lingkungan remaja masa kini. 
 
3/4 Liburan di alam terbuka

camping.jpgFoto dok: unsplash.com/@dinoreichmuth

Mengingat lamanya periode pembatasan sosial, para ahli memprediksikan bahwa akan ada banyak wisatawan yang ingin menghabiskan liburan mereka dengan mengemudi dan berkunjung ke alam terbuka. “Perjalanan menggunakan Campervan dan camping akan sangat populer pada musim panas tahun ini,” ujar Clayton Reid, CEO MMGY Global, salah satu agen pemasaran terkemuka yang dikhususkan untuk industri perjalanan dan hiburan. Ia menambahkan bahwa Taman Nasional akan melihat banyak pengunjung tahun ini. Di Amerika Serikat, hampir seluruh Taman Nasional bersiap untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung dengan menerapkan langkah-langkah keamanan serta kebersihan yang diperbaharui. "Lebih dari 250 Taman Nasional di dunia tetap dapat diakses sebagian saat pandemi," Juru bicara Layanan Taman Nasional Kathy Kupper mengatakan. Kembalinya operasi penuh juga akan dilakukan secara bertahap untuk menjamin kenyamanan pengunjung.
 
Sementara di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI mengambil langkah dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona ( Covid-19 ) dengan menutup 56 kawasan konservasi yaitu Taman Nasional, Taman Wisata Alam, dan Suaka Margasatwa. Hingga saat ini, 26 Taman Nasional/TN, 27 Taman Wisata Alam/TWA dan 3 Suaka Margasatwa/SM, telah ditutup untuk kunjungan wisata, baik domestik maupun manca negara. Adapun saat ini, belum ada keterangan lebih lanjut kapan Kawasan Taman Nasional tersebut akan beroperasi kembali.
 
Selain Taman Nasional, Direktur pelaksana humas global untuk jaringan penasihat perjalanan, Virtuoso, Misty Bell mengatakan bahwa spa, retret kesehatan dan salon kecantikan juga akan semakin diminati untuk memulihkan kesehatan fisik maupun mental. “Tempat-tempat tersebut akan memberikan ruang bagi para wisatawan untuk meredakan stres yang dialami selama masa karantina.”
 
4/4 Reservasi perjalanan yang fleksibel

ticket.jpgFoto dok: Unsplash.com/@odiin

Untuk mengantisipasi terjadinya pandemi selanjutnya, Juru Bicara American Society of Travel Advisors, Erika Richter mengatakan bahwa reservasi perjalanan yang fleksibel akan mengalami peningkatan. Ia juga mengatakan bahwa perusahaan travel saat ini sudah melihat peningkatan minat untuk perjalanan di luar musim panas tahun ini. “Penasihat perjalanan kami memberi tahu kami bahwa banyak wisatawan yang merencanakan liburan untuk tahun depan dan mengajukan pertanyaan untuk opsi perjalanan yang tersedia.” Untuk perjalanan ke luar negeri, Erika menegaskan bahwa pelancong tetarik dengan keuntungan dari promo menarik dan opsi pemesanan yang fleksibel.”